20/05/2026
Sering kali, sebagai orang tua, kita mendapati diri kita secara refleks langsung “membetulkan” atau mengoreksi anak saat mereka melakukan kesalahan, lambat memahami sesuatu, atau saat mereka sedang menangis. Kita ingin mereka cepat tangguh, cepat bisa, dan tidak tertinggal.
Namun, pernahkah Ayah Bunda jeda sejenak dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah respons saya tadi bertujuan untuk memahami dunianya, atau sekadar mendikte agar sesuai dengan standar aku, ya?”🤔
Ada perbedaan besar antara mendikte dan memahami. Mendikte fokus pada hasil akhir yang kita inginkan sebagai orang dewasa. Sementara memahami berfokus pada proses, emosi, dan kapasitas unik yang sedang dihadapi oleh anak saat itu juga.
Ketika anak terus-menerus didikte tanpa divalidasi, mereka akan tumbuh dengan perasaan bahwa diri mereka selalu “kurang” dan rumah bukanlah tempat yang aman untuk berekspresi. Sebaliknya, anak yang dibersamai dengan sikap memahami akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, regulasi emosinya matang, dan tidak takut untuk mencoba hal baru karena mereka tahu mereka diterima apa adanya.
Menerima keunikan anak adalah proses belajar seumur hidup bagi kita sebagai orang tua untuk terus menyelaraskan ekspektasi dengan realita perkembangan emosional Si Kecil✨