19/02/2026
TIGA POÉ SAACAN SAMÉMÉH PERNIKAHAN, MEREKA MENYURUH AKU MENANDATANGANI KONTRAK YANG MELUCUTI SEMUANYA… MEREKA MENGIRA AKU HANYA GADIS DESA YANG “BERUNTUNG” DICINTAI PUTRA MEREKA
Tapi apa yang kutaruh di atas meja setelah itu—mengguncang seluruh keluarga besar mereka.
Tiga hari sebelum pernikahan, di sebuah ruangan yang berbau kayu tua dan kuasa, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasakan beratnya marga keluarga yang kukira akan menjadi keluargaku juga.
Di atas meja tergeletak setumpuk dokumen tebal. Bukan undangan. Bukan rencana pernikahan.
Itu perjanjian pranikah.
Di bagian atas tertera nama Raka Wijaya—tegas, percaya diri.
Di bagian bawah, di bawah tulisan Pihak B, ada namaku.
Alya Putri.
Tak ada marga mereka di belakang namaku. Seperti pengingat bahwa meski tinggal tiga hari lagi menikah, aku tetap bukan “orang dalam”.
Pengacara keluarga, Atty. Bagus Santoso, mendorong dokumen itu perlahan ke arahku—seolah pelayan menyuguhkan hidangan penutup setelah jamuan mahal.
“Tanda tangan di sini, Nona Alya. Dan paraf di setiap halaman.”
Nada suaranya sopan, tapi dingin. Seakan aku tak berhak bertanya.
Di kiriku duduk Ibu Ratna Wijaya, kalung mutiaranya lebih besar dari kancing batik Raka.
Di kananku Pak Hendra, diam tapi sorot matanya tajam.
Raka… sibuk dengan ponselnya. Seolah surel lebih penting daripada perempuan yang akan ia nikahi.
Kubaca halaman pertama:
“Pihak B dengan sukarela melepaskan seluruh hak atas aset keluarga Wijaya sebelum, selama, dan setelah pernikahan.”
Halaman berikutnya:
“Pihak B tidak memiliki wewenang dalam pengambilan keputusan pendidikan anak.”
Lalu:
“Pihak B wajib mendapatkan persetujuan tertulis dari keluarga Wijaya sebelum menerima pekerjaan atau menjalankan usaha.”
Genggamanku pada pulpen mengencang.
“Tidak ada yang membingungkan, Nak?” tanya Ibu Ratna, senyumnya manis—beracun.
Aku diam.
Tiga hari.
Tiga hari sebelum pernikahan di hotel bintang lima Jakarta. Tiga ratus tamu. Keluargaku datang dari Solo. Semua DP hangus kalau batal.
“Ini cuma formalitas,” tambah Ibu Ratna. “Kami melakukan ini pada setiap perempuan yang masuk keluarga.”
Kata “perempuan yang masuk” menusuk. Bukan menantu. Seperti pelamar kerja.
“Ini standar prosedur,” kata Pak Hendra. “Kamu tentu tak ingin masalah di kemudian hari.”
Aku menoleh ke Raka.
“Raka, ini apa?”
Ia tak langsung mengangkat kepala.
“Tanda tangani saja, Alya. Hubungan kita tidak akan berubah. Ini formalitas.”
Tidak berubah?
Padahal setiap baris yang kubaca—mengubahku.
Tujuh tahun aku membangun perusahaan edtech di Depok. Mulai saat masih kuliah, kerja malam di call center untuk modal. Mengembangkan perangkat lunak pendidikan untuk sekolah negeri di daerah.
Tanpa investor. Tanpa “orang dalam”. Hanya aku dan tiga teman.
Enam bulan lalu, 60% sahamku diakuisisi perusahaan multinasional Singapura.
Dengan nilai yang tak diketahui keluarga Wijaya.
Mereka tak tahu aku punya dana sendiri.
Tak tahu aku bisa membayar seluruh pernikahan ini tanpa bantuan mereka.
Di mata mereka, aku cuma gadis desa yang kebetulan “naik kelas”.
“Ada yang tidak kamu pahami?” tanya pengacara itu, senyumnya menyiratkan remeh.
Kutunjuk satu pasal.
“Artinya… saya tidak punya suara soal sekolah anak kami?”
“Benar,” jawab Ibu Ratna lembut. “Anak Wijaya sekolah di institusi yang sama tiga generasi.”
“Dan di sini,” kutunjuk pasal lain, “saya harus minta izin untuk bekerja?”
“Tentu,” kata Pak Hendra. “Kami tak bisa membiarkan nama Wijaya tercoreng.”
Saat itu semuanya jelas.
Aku tidak masuk pernikahan sebagai setara.
Aku hanya simbol “modern” bagi Raka—bukti ia bisa mencintai perempuan yang tak sekaya keluarganya.
Di balik cinta, ada syarat.
“Saya minta waktu sebentar,” kataku.
“Tentu, Nak. Kamar kecil di ujung lorong,” senyum Ibu Ratna.
Di kamar mandi marmer, kutatap diriku di cermin. Rambut rapi. Baju rapi.
Tapi di mataku—ada api.
Kukeluarkan ponsel dan menelepon.
Dua dering, tersambung.
“Ya, Alya?”
“Pak Rafael Cortez, siap?”
Hening sesaat.
“Kalau ini keputusanmu, saya siap.”
“Mulai proses transfernya.”
“Kamu yakin? Kalau diaktifkan, tak bisa dibatalkan.”
Kutarik napas.
Lebih sakit bertahan daripada pergi.
“Saya yakin.”
“Besok proses dimulai. Senin, perusahaan yang mereka incar lewat pernikahan ini—tak akan berada dalam kendali mereka.”
“Terima kasih.”
Kutelungkupkan ponsel.
Di balik bajuku, kalung hadiah Ibu saat wisuda.
“Kamu adalah aset termahalmu sendiri,” katanya dulu.
Kembali ke ruangan. Mereka masih di posisi yang sama. Sama yakinnya.
Aku duduk, memegang pulpen.
“Siap?” tanya pengacara.
Aku menatap Raka.
“Raka, kamu mencintaiku?”
Ia mendongak, kesal.
“Apa-apaan ini? Tentu saja.”
“Kalau cinta, kenapa kamu tak peduli isi kertas ini?”
“Karena ini tidak penting. Aku percaya kamu. Kenapa kamu tak bisa percaya keluargaku?”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin definisi ‘keluarga’ kita berbeda.”
Ruangan sunyi.
Kukeluarkan satu map lain dari tasku—yang mereka kira dokumen pernikahan biasa.
Dan di sanalah…
cerita yang sebenarnya dimulai.