Rahayu Fitri

Rahayu Fitri Parenting enthusiast ❤️
leader of TIRA SATRIA NIAGA
Open Reseller komisi 10%

06/06/2026

Doakan selalu untuk anak-anak kita 🤲

05/06/2026

Amiim 🤲🥹

05/06/2026

Menjadi ibu yang tenang ☺️

05/06/2026

Mengisi tangki cinta anak 🫶🏻💔💙

05/06/2026

Mari kita awali hari ini dengan rasa syukur dan semangat baru. Ingat, setiap usaha keras yang kita lakukan di luar sana, ada doa-doa tulus dari keluarga tercinta yang selalu menyertai dan menguatkan kita di rumah...💚💚💚

01/06/2026

Amiin ya robb 🤲🥰 welcome june 🌸

31/05/2026

Rabbihabli minashalihiin 🤲

31/05/2026

Ibu tak akan pernah berhenti mendoakan anaknya 🫶🏻 Amiin 🤲

Save dulu yuk bun😍
12/07/2025

Save dulu yuk bun😍



“Anakku Lebih Dekat dengan Neneknya daripada Ibunya”> “Aku melahirkannya, tapi ia lebih memilih berlari ke pangkuan ibuk...
11/07/2025

“Anakku Lebih Dekat dengan Neneknya daripada Ibunya”

> “Aku melahirkannya, tapi ia lebih memilih berlari ke pangkuan ibuku.”

Bagian 1: Pelukannya untuk Nenek, Bukan Aku

Aku berdiri di ambang pintu, melihat anakku tertawa lepas di pelukan ibuku. Ibunya. Ibuku. Neneknya.

Dan entah kenapa, hatiku terasa... sepi.

Hari ini dia terjatuh saat belajar berlari. Dan seperti biasa, bukan pelukanku yang ia cari, tapi lengan neneknya.

Padahal aku yang mengandungnya.
Aku yang menahan rasa mual, kontraksi, dan robekan saat melahirkan.
Tapi mengapa ia lebih nyaman dengan neneknya?

Bagian 2: Ibu yang Terlalu Sibuk

Aku mulai menyalahkan diriku sendiri.
Apakah karena aku terlalu sibuk bekerja?
Apakah karena saat malam aku lelah dan cepat naik suara?
Ataukah karena aku sering menyerahkan dia ke ibuku saat aku ingin sekadar mandi lebih lama?

Aku merasa jadi ibu yang gagal.
Bagaimana mungkin anakku lebih dekat dengan orang yang tak melahirkannya?

Tapi... bagaimana aku bisa tidak bekerja? Rumah harus dibayar. Susu harus dibeli. Hidup harus berjalan.

Bagian 3: Nenek yang Luar Biasa

Ibuku bukan nenek biasa.
Ia penuh kelembutan.
Penuh kesabaran.

Saat aku bangun kesiangan karena begadang kerja, ibuku sudah memasak bubur anakku.
Saat aku marah karena rumah berantakan, ibuku membersihkan semuanya tanpa protes.
Saat aku kehabisan tenaga, ibuku yang mengambil alih, bermain dan menyuapi cucunya dengan senyum.

Maka tak heran, anakku merasa nyaman padanya.
Karena di usianya yang kecil, ia hanya mencari satu hal: kasih sayang yang hadir sepenuhnya.

Bagian 4: Kecemburuan yang Tak Terucap

Terkadang aku merasa iri.
Aku ingin dipeluk oleh anakku seperti dia memeluk ibuku.
Aku ingin jadi tempat aman baginya.

Tapi saat dia menangis mencari nenek, aku hanya bisa berdiri mematung.
Ada yang menyesak di dada.
Ada rasa asing yang menghantui:
“Apakah aku ibu yang ia cintai?”

Aku mencintainya tanpa batas. Tapi apakah cintaku sampai padanya?

Bagian 5: Malam yang Membuka Mata

Suatu malam, aku menangis di kamar.
Lelah.
Sedih.
Dan patah hati.

Ibuku masuk, duduk di sampingku, dan berkata,
“Kenapa menangis?”

Aku tak langsung jawab. Hanya lirih,
“Anakku lebih dekat sama Mama. Bukan aku.”

Ibuku tersenyum, menggenggam tanganku dan menjawab,
“Nak… dulu kamu juga begitu. Kamu lebih sering tidur di pelukan nenekmu daripada aku. Tapi lihat sekarang, kamu tetap pulang ke ibumu. Tetap butuh ibumu.”

Aku terdiam.

Bagian 6: Cinta Itu Tak Pernah Salah Alamat

Ibuku melanjutkan,
“Anak kecil tidak tahu bagaimana mengungkapkan cinta. Yang mereka tahu hanya siapa yang hadir saat mereka butuh. Tapi percaya, cinta anak itu tak pernah salah alamat.”

“Jangan merasa gagal hanya karena dia lebih sering ke pelukan neneknya. Justru karena kamu mempercayakan anakmu pada ibumu, kamu memberinya dua cinta sekaligus.”

Aku mulai menangis.
Pelan.
Diam-diam.
Tapi air mata itu membawa sedikit lega.

Bagian 7: Menyadari Peranku Kembali

Sejak malam itu, aku tak lagi memaksa anakku memilih antara aku atau neneknya.
Karena kenyataannya, ia tak harus memilih.
Ia bisa punya dua rumah untuk hatinya.

Aku belajar hadir lebih tulus.
Bukan sekadar ada, tapi benar-benar hadir.
Aku matikan HP saat bermain dengannya.
Aku peluk dia tanpa terburu-buru.
Aku tak lagi meminta dia memilihku — aku memilih dia setiap hari.

Dan perlahan, dia pun mulai mencari pelukanku.
Meski masih sering ke neneknya, kali ini ia juga mengulurkan tangan padaku.

Bagian 8: Tumbuh Bersama sebagai Ibu

Menjadi ibu bukan soal siapa yang paling dekat.
Tapi siapa yang tetap mencintai meski belum jadi pilihan utama.

Aku belajar bahwa anak itu bukan milik kita sepenuhnya.
Ia adalah titipan Tuhan.
Yang tumbuh sesuai takdirnya, dengan cinta yang kita semai.

Aku tidak ingin lagi cemburu.
Karena melihat anakku bahagia — bahkan jika bukan bersamaku — adalah kebahagiaan juga

Bagian 9: Terima Kasih, Mama

Kini, aku menatap ibuku dengan mata berbeda.
Tanpa beliau, aku mungkin sudah menyerah.
Tanpa beliau, anakku mungkin tak tumbuh sehangat itu.

Ternyata, ibu bukan hanya melahirkan anak,
tapi juga melahirkan seorang ibu lain melalui anaknya.

Terima kasih, Mama.
Sudah mencintaiku sampai sekarang.
Dan kini, mencintai cucumu sehangat itu.
Sumber Seniparenting

Address

Jalan Cendrawasih Residence Blok C No 9
Batam

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rahayu Fitri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share