21/05/2026
Sepasang suami istri datang untuk konsultasi karena sudah 4 tahun menikah tapi belum memiliki anak. Sebelumnya sudah pernah periksa ke salah satu dokter kandungan. Istri didiagnosa PCOS, sedangkan pemeriksaan pada suami menunjukkan hasil oligoastenozoospermia ( jumlah sperma kurang dan pergerakannya lambat).
Oleh dokter tersebut, istri diwajibkan untuk menjalani laparaskopi sedangkan suami terapi hormon. Mereka keberatan dengan biaya yang harus dikeluarkan karena memang cukup mahal jadi meminta solusi alternatif yang kira2 bisa membantu dengan biaya lebih terjangkau.
Dari USG tidak ditemukan kelainan pada rahim, ovarium dan sekitarnya. Saran yang bisa diberikan untuk suami dirujuk ke spesialis urologi, karena kebanyakan kasus kelainan sperma diakibatkan oleh varikokel ( pelebaran pembuluh darah vena di skrotum sehingga menurunkan produksi dan kualitas sperma ).
Untuk istri disarankan pemeriksaan HSG guna mengetahui apakah ada sumbatan pada saluran tuba. Selain itu, penting p**a melakukan perbaikan pola hidup, makan sehat bergizi seimbang, istirahat yang cukup dan olahraga teratur.
Dibutuhkan konsistensi jangka panjang menghadapi PCOS ( Polycystic O***y Syndrome) yang per tanggal 12 Mei 2026 resmi berganti nama menjadi PMOS ( Polyendocrine Metabolic O***y Syndrome).
Perubahan nama ini membawa paradigma baru yaitu PMOS adalah penyakit kompleks dimana terjadi gangguan endokrin metabolik sistemik dengan manifestasi pada ovarium sehingga memerlukan berbagai disiplin ilmu seperti Obgyn, Endokrinolog/internis, dokter gizi maupun psikolog/psikiater.
Jadi jangan berkecil hati untuk pejuang PMOS, walaupun dibutuhkan kesabaran ekstra namun perlu ditekankan istri bukan sumber masalah. Suami harus berjuang sama kerasnya dengan membuka diri bila diperlukan tindakan lanjutan seperti operasi jika memang terbukti varikokel.