Inspirasi Master Rajneesh

Inspirasi Master Rajneesh Kami menerjemahkan ucapan Master Osho ke dalam bahasa Indonesia, semoga bisa menginspirasi pembaca.

14/05/2026

LOMPATAN BESAR DALAM AGAMA (Bagian 3, Tamat)

Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada agama-agama yang berpusat pada Tuhan. Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada konsep revolusioner Adinatha, agama yang tidak bertuhan. Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada Buddha - agama yang terorganisasi tanpa Tuhan.

Sekarang upayaku adalah: sama seperti mereka telah menghilangkan Tuhan, hilangkanlah agama juga. Sisakanlah hanya meditasi, sehingga itu tidak bisa dilupakan dengan cara apa pun. Tidak ada apa pun yang lain untuk menggantikannya. Tidak ada Tuhan dan tidak ada agama. Dengan agama maksudku adalah doktrin, kepercayaan, ritual, imam yang terorganisasi. Dan untuk pertama kalinya aku ingin agama menjadi benar-benar individual (perorangan), karena semua agama yang terorganisasi, baik dengan Tuhan atau tanpa Tuhan, telah menyesatkan manusia. Dan satu-satunya penyebab adalah organisasi, karena organisasi memiliki caranya sendiri, yang bertentangan dengan kemeditatifan.

Organisasi sebenarnya adalah fenomena politik, itu tidak religius. Organisasi adalah cara lain untuk berkuasa dan keinginan untuk berkuasa.

Sekarang setiap imam Kristen berharap suatu hari nanti setidaknya menjadi uskup, menjadi kardinal, menjadi paus. Ini adalah hierarki baru, birokrasi baru, dan karena itu spiritual, tidak ada seorang pun yang keberatan. Engkau mungkin seorang uskup, engkau mungkin seorang paus, engkau mungkin apa saja. Itu tidak bisa ditentang karena engkau tidak akan menghalangi kehidupan siapa pun. Itu hanyalah gagasan yang abstrak.

Upayaku adalah menghancurkan keimaman sepenuhnya. Ia telah tetap bersama Tuhan, ia telah tetap bersama agama tanpa Tuhan, sekarang satu-satunya cara adalah kita seharusnya menyingkirkan keduanya, Tuhan dan agama, sehingga tidak ada kemungkinan keimaman apa pun.

Maka manusia benar-benar bebas, sepenuhnya bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri. Perasaanku adalah bahwa semakin besar seseorang bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri, semakin sulit baginya untuk menundanya terlalu lama. Karena itu berarti jika engkau sengsara, engkau bertanggung jawab. Jika engkau tegang, engkau bertanggung jawab. Jika engkau tidak rileks, engkau bertanggung jawab. Jika engkau menderita, engkau adalah penyebabnya. Tidak ada Tuhan, tidak ada imam yang bisa engkau datangi dan meminta ritual. Engkau dibiarkan sendirian dengan kesengsaraanmu, dan tidak ada seorang pun yang ingin sengsara.

Para imam terus memberimu candu, mereka terus memberimu harapan, "Jangan khawatir, itu hanya ujian atas imanmu, kepercayaanmu; dan jika engkau bisa melewati kesengsaraan dan penderitaan ini dengan tenang dan sabar, di alam sana setelah kematian engkau akan diberikan pahala yang luar biasa." Jika tidak ada keimaman, engkau harus memahami bahwa apa pun dirimu, engkau bertanggung jawab atasnya, bukan siapa pun yang lain.

Dan perasaan bahwa "Aku bertanggung jawab atas kesengsaraanku," membuka pintunya. Maka engkau mulai mencari metode dan cara untuk keluar dari kondisi yang menyedihkan ini, dan itulah meditasi. Ia hanyalah kebalikan dari keadaan kesengsaraan, penderitaan, kesedihan, kecemasan. Ia adalah keadaan dari keberadaan yang damai, penuh kebahagiaan, begitu hening dan begitu abadi sehingga engkau tidak bisa membayangkan apa pun yang lebih baik dari itu. Dan tidak ada yang lebih baik daripada keadaan pikiran yang meditatif.
.. Dan inilah sikapku: engkau ada di sini, setiap individu ada di sini, seluruh semesta tersedia. Semua yang engkau butuhkan hanyalah menjadi hening dan mendengarkan semesta.

Tidak perlu agama apa pun, tidak perlu Tuhan apa pun, tidak perlu imam apa pun, tidak perlu organisasi apa pun.

Aku secara tegas percaya pada individu. Tidak ada seorang pun hingga saat ini, yang telah percaya pada individu dengan cara seperti itu.

Jadi, semua hal bisa disingkirkan. Sekarang, semua yang telah tersisa bagimu adalah keadaan meditasi, yang hanya berarti keadaan keheningan total. Kata "meditasi" membuatnya tampak lebih berat. Itu lebih baik untuk menyebutnya hanya sebagai keheningan yang sederhana dan polos, dan semesta membuka semua keindahannya kepadamu.

Dan saat ia terus bertumbuh, engkau terus tumbuh, dan tibalah saatnya ketika engkau telah mencapai puncak itu sendiri dari potensimu - engkau bisa menyebutnya Kebuddhaan, pencerahan, bhagwatta, ketuhanan, apa pun, ia tidak memiliki nama, jadi nama apa pun bisa digunakan.

Osho ~ The Last Testament, Vol 5, Chpt 16

14/05/2026

LOMPATAN BESAR DALAM AGAMA (Bagian 2)

Adinatha menyingkirkan Tuhan tetapi meninggalkan ruang kosong, dan Buddha mengisinya dengan meditasi. Adinatha membuat agama yang tidak bertuhan, Buddha membuat agama yang meditatif.

Meditasi adalah sumbangan Buddha. Pertanyaannya bukan tentang menyiksa tubuh; Pertanyaannya adalah untuk menjadi lebih hening, untuk menjadi lebih rileks, untuk menjadi lebih damai. Ini adalah perjalanan ke dalam untuk mencapai pusat kesadaran diri sendiri, dan pusat kesadaran diri sendiri adalah pusat dari seluruh semesta.

Dua puluh lima abad sekali lagi telah berlalu. Sama seperti konsep Adinatha yang revolusioner tentang agama yang tidak bertuhan telah tersesat di padang gurun dari praktik pertapaan dan penyiksaan diri, gagasan Buddha tentang meditasi - sesuatu di dalam, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain; hanya engkau yang tahu di manakah engkau berada, hanya engkau yang tahu apakah engkau maju atau tidak - tersesat di padang gurun yang lain, dan itulah agama yang terorganisasi.

Agama mengatakan bahwa individu yang sendirian tidak bisa dipercaya, entah mereka bermeditasi atau tidak. Mereka membutuhkan komunitas, Master, biara tempat mereka bisa hidup bersama-sama. Mereka yang berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi bisa mengawasi yang lain dan membantu mereka. Itu menjadi penting bahwa agama seharusnya tidak diserahkan kepada tangan para individu, mereka harus terorganisasi dan seharusnya berada di tangan mereka yang telah mencapai titik meditasi yang tinggi.

Pada awalnya, itu baik; saat Buddha masih hidup, ada banyak orang yang telah mencapai realisasi diri, pencerahan. Tetapi, saat Buddha wafat dan orang-orang ini meninggal, organisasi itu sendiri yang seharusnya membantu orang banyak untuk bermeditasi jatuh ke tangan para biksu, dan alih-alih membantumu untuk bermeditasi, mereka mulai menciptakan ritual di sekitar patung Buddha. Buddha menjadi Tuhan yang lain. Adinatha menyingkirkan Tuhan, Buddha tidak pernah menerima bahwa Tuhan ada, tetapi kebiksuan ini tidak bisa ada tanpa Tuhan. Jadi mungkin tidak ada Tuhan pencipta, tetapi Buddha telah mencapai ketuhanan.

Bagi yang lain, satu-satunya hal adalah memuja Buddha, memiliki keyakinan kepada Buddha, mengikuti prinsip-prinsip Buddha, menjalani hidup menurut doktrinnya; dan Buddha tersesat dalam organisasi, peniruan. Tetapi mereka semua melupakan hal mendasar, yaitu meditasi. Seluruh upayaku adalah menciptakan agama yang tidak beragama.

Osho ~ The Last Testament, Vol 5, Chpt 16

14/05/2026

LOMPATAN BESAR DALAM AGAMA (Bagian 1)

Penghargaan atas membawa lompatan besar dalam agama dimulai 25 abad sebelum Buddha Gautama, kepada Adinatha, yang untuk pertama kalinya mengajarkan agama tanpa Tuhan. Itu adalah revolusi yang luar biasa, karena tidak di mana pun di seluruh dunia pernah terpikirkan, bahwa agama bisa ada tanpa Tuhan.

Tuhan telah menjadi bagian yang penting - pusatnya - dari semua agama: Kristen, Yahudi, Islam. Tetapi menjadikan Tuhan sebagai pusat agama membuat manusia hanya menjadi lingkar luarnya. Menganggap Tuhan sebagai pencipta dunia membuat manusia hanyalah menjadi boneka.

Itulah mengapa dalam bahasa Ibrani, yang adalah bahasa agama Yahudi, manusia disebut Adam.

'Adam' berarti lumpur. Dalam bahasa Arab, manusia disebut 'admi'; itu berasal dari Adam, sekali lagi itu berarti lumpur. Dalam bahasa Inggris, yang telah menjadi bahasa Kristen pada umumnya, kata human (manusia) berasal dari 'humus' dan humus berarti lumpur.

Tentu saja jika Tuhan adalah pencipta, Dia harus menciptakan dari sesuatu. Dia harus membuat manusia seperti patung, jadi pertama-tama Dia membuat manusia dengan lumpur dan kemudian meniupkan kehidupan ke dalamnya. Namun jika demikian, manusia kehilangan semua martabatnya, dan jika Tuhan adalah pencipta manusia dan segala yang lainnya, seluruh gagasan itu aneh, karena apa yang telah Dia lakukan selama kekekalan sebelum Dia menciptakan manusia dan alam semesta?

Menurut agama Kristen, Dia menciptakan manusia hanya 4000 tahun sebelum Yesus Kristus. Jadi, apakah yang telah Dia lakukan selama kekekalan? Jadi, itu tampaknya aneh. Tidak mungkin ada sebab, karena untuk memiliki sebab, yang membuat Tuhan harus menciptakan semesta, berarti ada kekuatan yang lebih tinggi daripada Tuhan, ada sebab-sebab yang bisa membuat-Nya menciptakan. Atau ada kemungkinan bahwa tiba-tiba hasrat muncul dalam diri-Nya. Itu pun tidak terlalu masuk akal secara filosofis, karena selama kekekalan Dia tidak memiliki hasrat. Dan menjadi tanpa hasrat itu begitu membahagiakan, sehingga mustahil untuk membayangkan bahwa dari pengalaman kebahagiaan abadi, muncullah hasrat dalam diri-Nya untuk menciptakan dunia. Hasrat adalah hasrat, entah engkau ingin membangun rumah, atau menjadi perdana menteri, atau menciptakan dunia. Dan Tuhan tidak bisa dibayangkan memiliki hasrat. Jadi satu-satunya hal yang tersisa adalah bahwa Dia bersifat aneh, eksentrik. Maka tidak perlu ada sebab dan tidak perlu ada hasrat -- hanya sekadar keinginan mendadak.

Tetapi jika seluruh semesta ini hanya berasal dari keinginan mendadak, maka ia kehilangan semua makna, semua arti penting. Dan besok keinginan mendadak lain mungkin muncul dalam diri-Nya untuk menghancurkan, menghilangkan seluruh semesta. Jadi kita hanyalah boneka di tangan Tuhan diktator, yang memiliki semua kekuatan tetapi tidak memiliki pikiran yang waras, yang tidak terduga.

Untuk memahami ini 5000 tahun yang lalu, Adinatha pastilah seorang meditator yang sangat mendalam, perenung, dan dia pasti telah sampai pada kesimpulan bahwa bersama Tuhan, tidak ada makna di dunia ini. Jika kita menginginkan makna di dunia ini, maka Tuhan harus disingkirkan. Dia pastilah seorang yang luar biasa berani.

Orang-orang masih memuja Tuhan dalam gereja, dalam sinagoge, dalam kuil; namun orang itu, Adinatha 5000 tahun sebelum kita, telah tiba pada kesimpulan ilmiah yang sangat jelas, bahwa tidak ada yang lebih tinggi dari manusia dan setiap evolusi yang akan terjadi ada di dalam diri manusia dan di dalam kesadarannya.

Inilah lompatan besar pertama - Tuhan disingkirkan.

Adinatha adalah Master pertama dari Jainisme. Penghargaan tidak diberikan kepada Buddha, karena Buddha datang 25 abad setelah Adinatha. Tetapi penghargaan lain diberikan kepada Buddha. Adinatha telah menyingkirkan Tuhan tetapi tidak bisa menempatkan meditasi pada tempatnya. Sebaliknya, dia menciptakan asketisme, praktik pertapaan, menyiksa tubuh, berpuasa, tetap telanjang, makan hanya sekali sehari, tidak minum di malam hari, tidak makan di malam hari, makan hanya makanan tertentu. Dia telah tiba pada kesimpulan filosofis yang indah, tetapi tampaknya kesimpulan itu hanya filosofis, itu tidak meditatif.

Ketika engkau menggulingkan Tuhan, engkau tidak bisa memiliki ritual apa pun, engkau tidak bisa memiliki pemujaan, engkau tidak bisa memiliki doa; sesuatu harus digantikan. Dia menggantikan dengan praktik pertapaan, karena manusia menjadi pusat dari agamanya dan manusia harus memurnikan dirinya sendiri. Kemurnian dalam konsepnya adalah bahwa manusia harus melepaskan dirinya dari dunia, harus melepaskan dirinya dari tubuhnya sendiri. Ini membuat keseluruhannya menyimpang.

Dia telah sampai pada kesimpulan yang sangat penting, tetapi itu tetap hanya sebuah konsep filosofis.

Osho ~ The Last Testament, Vol 5 Chpt 16

14/05/2026

MENCARI TUHAN

Rabindranath Tagore telah menulis sebuah puisi yang indah. Dia berkata: 'Sejak kelahiran yang tak terhingga aku telah terus mencari Tuhan. Aku tidak tahu berapa banyak jalan yang telah kulalui, berapa banyak perintah agama. Hanya Tuhan yang tahu berapa banyak pintu yang telah kuketuk, berapa banyak guru yang telah kulayani, atau berapa banyak yoga dan penebusan dosa yang telah kulakukan. Namun, pada suatu hari, aku akhirnya berhasil mencapai pintu-Nya. Aku biasa melihat sekilas pandangan dari-Nya, tetapi kilasan itu sedekat bintang yang jauh. Pada saat aku sampai di sana, bintang itu telah lama melintas.'

'Tetapi hari ini? Hari ini aku berdiri di depan gerbang-Nya. Aku membaca namanya di luar - itu adalah nama-Nya. Aku menaiki tangga dengan begitu gembira bahwa tujuanku tercapai. Aku pegang pengetuk pintu, aku akan mengetuk, lalu .…

Lalu, rasa takut menyergapku! Bagaimana jika pintunya terbuka? Apa yang akan aku lakukan? Dan jika aku bertemu Tuhan - lalu bagaimana? Apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Sampai sekarang hanya ada satu tujuan dalam hidup - untuk mencapai Tuhan. Maka tidak akan ada lagi tujuan untuk dikerjakan. Sampai sekarang hanya ada satu obsesi, satu kesibukan – semua itu akan dihancurkan! Dan bagaimana ketika aku telah bertemu dengan-Nya? Maka tidak akan ada apa pun yang tersisa untuk dilakukan, tidak ada masa depan untuk dinantikan, tidak ada perjalanan untuk dilakukan - tidak ada sesuatu pun bagi ego untuk dikerjakan.'

'Ketakutan membuatku gemetar. Aku diam-diam meletakkan pengetuk pintu itu kembali. Begitu lembutnya aku meletakkannya lagi karena takut jika sedikit sentakan bisa menyebabkan suara dan pintunya mungkin terbuka! Lalu aku melepas sepatuku sehingga aku bisa turun tangga tanpa suara. Lalu aku berlari! Aku berlari sekencang-kencangnya, bisa dikatakan, dan aku tidak pernah melihat ke belakang bahkan sekali pun!'

Di bait terakhir, penyair itu berkata, 'Aku masih sedang mencari Dia. Engkau akan mendapatiku sedang mencari Dia di jalan yang berbeda meskipun aku tahu benar di mana Dia tinggal. Namun aku bertanya kepada orang lain di mana aku bisa menemukan Dia? Dan aku tahu di mana dia tinggal. Aku mencari Dia bahkan sekarang. Jauh sekali di dekat bulan dan bintang-bintang aku melihat-Nya sekilas. Tetapi sekarang aku yakin karena aku tahu Dia akan pergi jauh, sangat jauh pada saat aku tiba. Sekarang aku mencari Dia di semua tempat kecuali satu - di mana Dia tinggal; dan aku tidak pernah pergi mendekatinya. Aku menjaga diriku sendiri... hanya dari Dia!'

Puisi ini adalah pernyataan yang sangat penting, dan menggambarkan dengan tepatnya kondisimu. Jangan pernah berkata engkau tidak tahu di mana Tuhan berada. Dia ada di mana-mana; lalu bagaimana mungkin engkau tidak tahu di mana Dia berada? Jangan pernah mengatakan gemboknya terkunci dan engkau tidak tahu tentang kunci itu, karena kuncinya telah diberikan kepadamu seribu kali, tetapi engkau selalu lupa di mana engkau telah menyimpannya. Engkau meninggalkannya di suatu tempat; diri bawah sadarmu mencoba untuk melarikan diri dari-Nya. Sampai keraguanmu hilang, engkau akan mencari Dia di satu sisi dan kehilangan Dia di sisi yang lain. Engkau akan mengangkat satu kaki untuk melangkah ke arah-Nya dan mengangkat kaki lain ke arah yang berlawanan.

Engkau tetap menghidupkan mitos bahwa engkau adalah seorang pencari, karena itu memuaskanmu dan menenangkan hati nuranimu. Ini memberimu perasaan penting, dengan merasa bahwa engkau bukan orang biasa yang mencari kekayaan atau posisi. Engkau merasa dirimu di atas mereka karena engkau mencari Tuhan, kebenaran, agama. Sementara orang lain terlibat dalam hal-hal yang lebih rendah, engkau telah memilih keberadaan semesta yang luas.

Jadi engkau terus menyatakan bahwa engkau sedang mencari-Nya, sementara diam-diam dari dalam batin engkau berusaha melarikan diri dari-Nya. Kecuali jika engkau memahami dan menghadapi dualitas ini di dalam dirimu, engkau tidak akan pernah mampu mencari-Nya.

OSHO ~ The True Name, Chpt 9

14/05/2026

KISAH SUFI TENTANG YESUS: HASIL MUKJIZAT

Banyak orang mendatangiku karena sakit. Mereka telah mencoba dokter, tabib, penyembuhan ini dan itu; mereka telah mencoba banyak hal dan tidak ada yang terjadi. Lalu mereka datang, lalu mereka berbicara tentang Tuhan. Dan aku bisa melihat bahwa mereka sama sekali tidak tertarik pada Tuhan; mereka sakit, secara fisik, secara mental, dan mereka sedang mencari keajaiban, obat ajaib. Mereka berbicara tentang meditasi, mereka berbicara tentang Tuhan, mereka bahkan siap untuk menjadi murid, tetapi pencarian mereka salah. Mereka seharusnya tidak berada di dekatku, mereka seharusnya pergi ke dokter, karena mereka bahkan tidak menyadari dorongan spiritual dalam diri mereka. Itu adalah sesuatu yang bersifat fisik, atau sesuatu yang mental - yang sama saja, karena pikiran dan tubuhmu bukan dua hal. Mereka adalah dua kutub dari fenomena yang sama.

Dan bahkan jika engkau disembuhkan, tidak ada apa pun yang sembuh dalam dirimu. Bahkan jika engkau memiliki tubuh yang sehat, itu tidak ada bedanya bagi pertumbuhan batinmu. Mungkin, sebagaimana dirimu, kesehatan mungkin tidak membawa berkah. Ia bahkan mungkin menjadi kutukan bagimu.

Aku teringat sebuah anekdot dalam kehidupan Yesus. Itu tidak diceritakan dalam buku-buku Kristen, itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi para Sufi mempunyai kisah itu tentang Yesus.

Kisahnya adalah suatu ketika Yesus memasuki sebuah kota kecil. Dia melihat seorang pria berlari mengejar seorang pelacur, benar-benar terpikat, terhipnotis. Dia menghentikan pria itu dan bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan? Mengapa engkau menyia-nyiakan hidupmu untuk hal-hal bodoh seperti itu?”

Pria itu menatap Yesus dan berkata, "Engkau tidak mengenaliku, Tuanku, tetapi aku mengenalimu - bagaimana aku bisa melupakanmu? Aku dulu buta dan engkau telah menyentuh mataku, dan sekarang aku bisa melihat. Tetapi apakah yang lebih baik, yang bisa aku lakukan dengan mataku, selain terpesona oleh tubuh yang indah? Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan mataku, selain menghargai keindahan bentuk! Apa lagi yang ada untuk dilihat? Dan aku dulu buta, Tuanku, dan engkau begitu hebat, engkau telah memberkatiku. Sekarang aku bisa melihat dan menikmati."

Yesus merasa sangat sedih karena dia tidak pernah mengira bahwa mata bisa menjadi kutukan. Tetapi sebagaimana manusia adanya, sebagaimana engkau adanya, engkau akan mengubah semua berkat menjadi kutukan.

Dia memasuki kota, dia melihat pria lain yang mabuk berat, terbaring di selokan, menangis, dan meratap, dan berteriak, dan menjerit. Dia mendekati pria itu dan bertanya, "Apa yang sedang engkau lakukan? Mengapa engkau menyia-nyiakan hidupmu seperti seorang pemabuk? Hidup ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk mengetahui dan menyadari yang Ilahi. Di sana hanya ada satu kehidupan - dan begitu terlewatkan, terlewatkan selamanya! Dan waktu tidak pernah kembali, engkau tidak bisa memperolehnya kembali. Bangunlah!"

Saat mendengar pria ini, pemabuk itu membuka matanya dan berkata, "Tuanku, apakah engkau telah melupakan aku? Aku dulu sakit dan aku dulu terbaring di tempat tidur selama sepuluh tahun, kemudian engkau telah menyentuhku, dan engkau telah menyembuhkanku. Sekarang aku sehat. Tetapi apa lagi yang bisa dilakukan orang dengan tubuhnya? Aku sedang menikmati! Makan, minum, dan bergembiralah! Aku sedang mengikuti aturan itu. Dan sekarang aku sehat karenamu. Engkau begitu hebat!"

Yesus menjadi sangat sedih. Dia tidak pernah membayangkan bahwa kesehatan bisa berubah menjadi kutukan. Dia berbalik. Dia begitu sedih sehingga dia tidak ingin pergi ke kotanya.

Ketika dia keluar kota, dia melihat seorang pria yang sedang berusaha menggantung dirinya sendiri di pohon, untuk bunuh diri. Yesus tiba tepat waktu, menghentikan pria itu dan berkata, "Apa yang sedang engkau lakukan? Hidup ini sangat berharga, setiap saat darinya - dan Tuhan telah memberimu anugerah yang begitu besar, dan engkau sedang menghancurkannya! Apa yang sedang engkau lakukan?"

Pria itu menatap Yesus dan berkata, "Jika aku belum melupakannya, engkaulah orang yang sama, yang telah menciptakan masalahnya. Aku dulu sudah mati. Engkau telah menyentuhku dan engkau telah menghidupkanku kembali. Sekarang apa yang bisa aku lakukan? Hidup tidak ada artinya. Dan aku harus memberitahumu - jangan sentuh aku lagi. Cukuplah sudah! Aku dulu sudah mati dan engkau telah menghidupkanku kembali, tetapi jangan lakukan ini lagi kepada orang lain! Aku muak dengan hidup dan kematianku dulu adalah berkah, dan engkau telah menghidupkanku kembali, dan selama tiga tahun terus-menerus aku harus menderita lagi. Sekarang aku akan bunuh diri - engkau tolonglah pergi dari sini! Siapa tahu, engkau mungkin menyentuhku lagi.”

Tidak, kesehatan, kehidupan, kekuatan, masa muda - segalanya engkau ubah menjadi kutukan, karena segalanya tergantung pada kesadaranmu. Ada orang-orang yang telah mengubah penyakitnya menjadi berkah, yang telah mengubah kebutaan mereka menjadi pemahaman batin, yang telah mengubah kematian mereka menjadi kehidupan baru. Itu tergantung padamu.

Osho ~ Just Like That, Chpt 2

12/05/2026

Seorang gadis cantik berjalan ke arah seorang pria tampan yang tinggi.

"Ohhh," desahnya, "kamu punya lengan yang berotot begitu besar!"
"Ya," pria itu menjawab, mengepalkan satu tangannya. Dia kemudian menunjuk dengan tangan yang lain ke ototnya dan berkata, “Dua puluh senti! Saya mengukurnya pagi ini.”

"Ohhh," kata gadis itu dengan kagum, "dan kamu punya dada yang begitu besar dan indah!"
Pria itu tertawa, merentangkan tangannya ke udara, dan berkata, “Sembilan puluh senti! Aku mengukurnya tadi pagi.”

Gadis itu tercengang. Dia menatap pria itu, mengarahkan jarinya ke kemaluannya dan bertanya, "Berapa panjang?"
"Lima senti," jawabnya.
"Cuma?" tanya gadis itu kecewa.

Pria itu menarik napas dalam-dalam, menatap gadis itu dan berkata, "Diukur dari lantai, tentu saja!"

OSHO ~ The Goose is Out, Chpt 10

12/05/2026

EGO DAN RENDAH HATI

Seseorang berkata, "Aku adalah orang terkaya di dunia." Seseorang berkata, "Aku adalah orang yang paling berkuasa di dunia." Seseorang berkata, "Aku adalah orang yang paling rendah hati di dunia." Di manakah perbedaannya?

Aku tidak mengatakan jadilah rendah hati. Ego bisa menjadi rendah hati. Aku bicara tentang kehilangan ego.

Engkau harus melihat ke dalam ego: kerumitannya, permainannya yang halus. Engkau harus menjadi sadar akan semua permainannya. Suatu hari ketika engkau telah melihat semua permainannya, ia menghilang begitu saja.

Hanya dengan melihat ke dalamnya, hanya sebuah kejelasan, hanya sebuah kesadaran, dan ia menghilang. Ia menghilang seperti kegelapan menghilang ketika engkau membawa cahaya ke dalam ruangan yang gelap. Bawalah saja kesadaran.

Aku tidak mengatakan latihlah kerendahan hati, dan aku tidak mengatakan jadilah orang yang rendah hati. Aku katakan, siapa pun engkau, bawalah saja cahaya ke dalam hidupmu, berikanlah sedikit lebih banyak kesadaran, dan engkau akan melihat bahwa ego itu seperti kegelapan yang menghilang. Suatu saat ketika di sana tidak ada ego, di sana tidak ada kerendahan hati juga.

Orang yang benar-benar religius bukanlah orang yang rendah hati maupun egois - dia polos.

Osho ~ The Discipline of Transcendence, Vol 3, Chpt 10

12/05/2026

DUNIA MATERI

Ketika engkau mempunyai saldo bank yang besar, engkau merasa engkau ada. Pada saat saldo bank menghilang, engkau mulai menghilang. Orang-orang bunuh diri ketika mereka bangkrut, seolah-olah jiwa mereka ada di bank. Saldo bank mereka adalah jiwa mereka. Bagaimana mereka sekarang bisa hidup tanpa jiwa?

Perhatikanlah saja betapa engkau terikat pada berbagai hal. Rumahmu, alat elektronikmu, yang tidak lain hanyalah mainan - seberapa dalam engkau terobsesi dengannya. Dan perlahan-lahan, engkau lupa sebenuhnya bawa engkau bukan barang....

Dikelilingi oleh banyak barang, hidup dalam budaya barang.... Itulah nama sebenarnya untuk budaya materialis. Orang cenderung melupakan semua yang spiritual, dan orang cenderung merendahkan segala sesuatu menjadi barang. Bahkan orang-orang direndahkan.

Ketika engkau bertemu seorang wanita dan engkau jatuh cinta, dia adalah seseorang. Cepat atau lambat engkau merendahkannya menjadi barang - dia menjadi seorang istri. Seorang istri adalah barang; seorang wanita adalah seseorang. Jika engkau benar-benar mencintai wanita mana pun, engkau tidak akan merendahkannya menjadi seorang istri. Istri adalah sebuah fungsi...

Tetapi apa pun yang engkau lakukan, orang tetaplah orang dan dia tidak bisa direndahkan menjadi barang. Dan itu menciptakan masalah. Istrimu tetap seorang wanita, apa pun yang engkau pikir. Dia tetap seorang wanita. Engkau bisa percaya bahwa dia seorang istri, namun tetap dia seorang wanita - luas, tak bisa diramalkan. Itu menciptakan masalah...

Jutaan orang hanya terus mengumpulkan barang-barang, terus memiliki barang-barang. Akhirnya apa yang terjadi?

Mereka dikuasai oleh barang-barang. Jika engkau berusaha memiliki barang-barang, engkau akan dikuasai oleh barang-barang. Dan inilah keadaan terburuk yang bisa dialami manusia.

OSHO ~ The Secret, Chpt 20

12/05/2026

KHOTBAH BUNGA

Suatu hari Buddha Gautama datang dengan sebatang bunga teratai di tangannya dan duduk dengan diam, tidak berkata apa pun. Dan sepuluh ribu murid ada di sana, sepuluh ribu biksu ada di sana, dan mereka sedang menunggunya untuk mengatakan sesuatu, dan dia terus melihat pada bunga teratai itu. Ada keheningan yang luar biasa, dan kemudian di sana ada kegelisahan yang sangat besar juga. Orang-orang mulai menjadi gelisah - "Apa yang sedang dia lakukan? Dia tidak pernah melakukan itu sebelumnya."

Dan kemudian seorang murid, Mahakashyapa, tersenyum.

Buddha memanggil Mahakashyapa, memberinya bunga teratai itu, dan berkata kepada yang hadir, "Apa yang bisa dikatakan telah aku katakan kepadamu, dan apa yang tidak bisa dikatakan telah aku berikan kepada Mahakashyapa."

Ini adalah avyakritopadesh, ini adalah pesan yang tidak bisa didefinisikan. Ini adalah asal mula Buddhisme Zen, penyampaian ajaran. Sesuatu disampaikan oleh Buddha kepada Mahakashyapa, sesuatu yang tidak ada; di alam kasat mata tidak ada apa pun - tidak ada kata, tidak ada kitab suci, tidak ada teori - tetapi sesuatu telah disampaikan. Apakah itu?

Para biksu Zen telah bermeditasi atas hal ini selama dua ribu lima ratus tahun: "Apakah itu? Apakah yang telah disampaikan? Apakah sebenarnya yang diberikan?" Sesungguhnya, tidak ada yang diberikan dari Buddha kepada Mahakashyapa; Mahakashyapa tentu saja telah memahami sesuatu.

Dia memahami keheningan, dia memahami keheningan yang menembus. Dia memahami momen kejelasan itu, momen dari tanpa pemikiran sama sekali. Dia menjadi satu, pada saat itu, dengan Buddha. Itulah yang dimaksud dengan penyerahan diri. Bukan berarti dia melakukannya: Buddha diam dan dia diam, dan keheningan itu bertemu, dan kedua keheningan itu saling melarut. Dan dua keheningan tidak bisa tetap terpisah, ingatlah, karena keheningan tidak memiliki batas, keheningan itu tidak terbatas, keheningan itu hanya terbuka, terbuka dari semua sisi.

Dalam pertemuan besar dari sepuluh ribu biksu itu ada dua keheningan di hari itu - Buddha dan Mahakashyapa. Yang lainnya tetap berada di luar. Mahakashyapa dan Buddha bertemu: itulah mengapa dia tersenyum - karena itu adalah khotbah terbesar yang pernah disampaikan oleh Buddha. Tanpa mengatakan satu hal pun dan dia telah mengatakan segalanya, semua yang bisa dikatakan - dan semua yang tidak bisa dikatakan, itu juga.

Mahakashyapa mengerti dan tertawa. Dalam tawa itu Mahakashyapa menghilang sepenuhnya, menjadi seorang Buddha. Nyala api dari lampu Buddha melompat ke dalam Mahakashyapa.

Itu disebut 'penyampaian melampaui kitab suci' - Khotbah Bunga. Itu unik dalam sejarah kesadaran manusia. Itulah yang disebut avyakritopadesh: kata yang tak terucapkan, kata yang tak terkatakan.

Keheningan menjadi begitu besar, begitu kokoh; keheningan menjadi begitu nyata, begitu mendasar; keheningan menjadi nyata pada saat itu. Buddha adalah ketiadaan, Mahakashyapa juga mengerti apakah artinya menjadi ketiadaan, menjadi benar-benar kosong.

Osho ~ The Heart Sutra, Chpt 2

12/05/2026

TUMBUH MENJADI MANUSIA SEJATI

Ketika semua prasangka telah dijatuhkan, semua konsep ditolak, semua kitab suci dibakar, seluruh tradisi dijatuhkan, maka engkau polos. Engkau tidak tercemar. Dalam kemurnian dari momen saat ini, matahari terbit. Dan dari situlah orang mulai tumbuh menjadi manusia sejati. Dari situlah orang mulai tumbuh bahkan melampaui kemanusiaan, dia mulai melampaui…

Pertumbuhan yang sesungguhnya tidak mengenal batas. Engkau mengandung sesuatu yang tidak terbatas di dalam dirimu, sesuatu seperti lautan – dan, kecuali jika engkau telah mengetahuinya, jangan merasa puas, jangan merasa senang!

Osho ~ Unio Mystica, Vol 2, Chpt 1

11/05/2026

TENTANG VEGETARIAN

Pertanyaan:
Engkau baru saja berbicara tentang makanan, dan sekarang di Barat makanan adalah hal besar. Ia salah satu hal yang datang sebagai dasar dari spiritualitas. Engkau berkata jika kita alami, kita akan tahu apa yang harus dimakan dan kapan harus makan, tetapi sekarang kita tidak berhubungan dengan sifat kita yang seperti anak-anak. Juga, banyak agama mengatakan bahwa makanan yang engkau makan memang membuat perbedaan pada jalan spiritual seseorang. Adakah yang bisa engkau katakan tentang makanan sebagai panduan untuk kaum Barat?

Jawaban OSHO:

Itu terbalik: makanan tidak bisa membuatmu spiritual, tetapi jika engkau spiritual, kebiasaan makanmu akan berubah.

Makan apa pun tidak akan membuat banyak perbedaan. Engkau bisa menjadi vegetarian dan kejam sampai titik ekstrem, dan kasar; engkau bisa menjadi non-vegetarian dan baik hati dan penuh kasih. Makanan tidak akan membuat banyak perbedaan.

Di India ada komunitas yang telah hidup sepenuhnya dengan makanan vegetarian; banyak Brahmana telah hidup sepenuhnya dengan makanan vegetarian. Mereka tanpa-kekerasan tetapi mereka tidak spiritual.

Dan umat Jaina (yang vegetarian) adalah komunitas yang paling materialistis di India, yang paling tertarik dengan kepemilikan, pengumpulan; itulah mengapa mereka telah menjadi yang terkaya. Mereka adalah orang-orang Yahudi di India. Tetapi dunia non-vegetarian di Barat tidak berbeda sama sekali dengan komunitas vegetarian di India ini.

Sebaliknya, hal yang sangat penting harus diingat: jika engkau kejam dan makananmu vegetarian, maka kekerasanmu akan harus menemukan cara lain untuk diungkapkan. Itu alami, karena makan makanan non-vegetarian melepaskan kekerasanmu.

Jadi, jika engkau mengenal beberapa pemburu, engkau mungkin menyadari bahwa pemburu adalah orang yang paling penyayang. Seluruh kekerasan mereka dilepaskan dalam perburuan, mereka paling ramah, penuh kasih. Tetapi seorang pengusaha vegetarian tidak mempunyai cara untuk melepaskan kekerasannya, sehingga seluruh kekerasannya menjadi pencarian akan kekayaan dan kekuasaan; itu menjadi menyempit.

Tapi itu terjadi yang sebaliknya. Ini terjadi pada Mahavira. Mahavira berasal dari keluarga pejuang, dia adalah seorang Ksatria. Kekerasan pastilah mudah baginya, dan kemudian upaya meditatif yang mendalam, keheningan selama dua belas tahun mengubah inti batinnya. Ketika inti berubah, pengungkapannya berubah; ketika keberadaan yang paling dalam diubah, karakternya berubah. Namun perubahan karakter itu bukanlah hal yang mendasar, melainkan sebuah akibat. Jadi aku katakan padamu, jika engkau menjadi lebih meditatif, engkau akan menjadi semakin vegetarian, secara otomatis. Engkau tidak perlu peduli tentang hal itu.

Dan hanya jika ini terjadi, bahwa melalui meditasi, makanan vegetarian masuk ke dalam dirimu, bukan melalui manipulasi pikiran, itu baik. Tetapi memanipulasi dengan pikiran, alasan, penalaran bahwa makanan vegetarian itu baik, bahwa itu akan membantumu mencapai spiritualitas, tidak akan membantu apa pun. Pakaianmu, makananmu, kebiasaan hidupmu, gayamu, semuanya akan berubah; tetapi perubahan ini tidak mendasar. Perubahan mendasar akan ada di dalam dirimu dan kemudian yang lainnya mengikuti.

Jika engkau bermeditasi cukup lama, cukup dalam, mustahil bagimu untuk menyakiti siapa pun demi makanan; itu mustahil. Ini bukan soal argumen, ini bukan soal dari kitab suci, bukan siapa yang mengatakan apa, ini bukan soal perhitungan bahwa jika engkau makan makanan vegetarian, engkau akan menjadi spiritual; itu otomatis. Ini bukan soal kelicikan, engkau hanya menjadi spiritual. Keseluruhannya tampak begitu tidak masuk akal. Hanya untuk makanan, membunuh binatang, burung, tampaknya begitu tidak masuk akal, hal ini dijatuhkan.

Pakaianmu berubah secara otomatis; perlahan-lahan engkau menyukai pakaian yang semakin longgar. Semakin rileks engkau di dalam – pakaian longgar. Secara otomatis, aku katakan; tidak akan ada keputusan di pihakmu. Perlahan-lahan, jika engkau menggunakan pakaian ketat engkau akan merasa tidak nyaman. Pakaian ketat milik pikiran yang tegang, pakaian longgar milik pikiran yang santai.

Tetapi perubahan batin adalah hal pertama dan segala sesuatu yang lain hanyalah akibatnya. Jika engkau membalikkan urutannya, engkau akan melewatkan, maka engkau akan menjadi pecandu makanan.

OSHO ~ A Bird on the Wing, Chpt 6

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Inspirasi Master Rajneesh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share