14/05/2026
LOMPATAN BESAR DALAM AGAMA (Bagian 3, Tamat)
Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada agama-agama yang berpusat pada Tuhan. Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada konsep revolusioner Adinatha, agama yang tidak bertuhan. Kita telah melihat apa yang telah terjadi pada Buddha - agama yang terorganisasi tanpa Tuhan.
Sekarang upayaku adalah: sama seperti mereka telah menghilangkan Tuhan, hilangkanlah agama juga. Sisakanlah hanya meditasi, sehingga itu tidak bisa dilupakan dengan cara apa pun. Tidak ada apa pun yang lain untuk menggantikannya. Tidak ada Tuhan dan tidak ada agama. Dengan agama maksudku adalah doktrin, kepercayaan, ritual, imam yang terorganisasi. Dan untuk pertama kalinya aku ingin agama menjadi benar-benar individual (perorangan), karena semua agama yang terorganisasi, baik dengan Tuhan atau tanpa Tuhan, telah menyesatkan manusia. Dan satu-satunya penyebab adalah organisasi, karena organisasi memiliki caranya sendiri, yang bertentangan dengan kemeditatifan.
Organisasi sebenarnya adalah fenomena politik, itu tidak religius. Organisasi adalah cara lain untuk berkuasa dan keinginan untuk berkuasa.
Sekarang setiap imam Kristen berharap suatu hari nanti setidaknya menjadi uskup, menjadi kardinal, menjadi paus. Ini adalah hierarki baru, birokrasi baru, dan karena itu spiritual, tidak ada seorang pun yang keberatan. Engkau mungkin seorang uskup, engkau mungkin seorang paus, engkau mungkin apa saja. Itu tidak bisa ditentang karena engkau tidak akan menghalangi kehidupan siapa pun. Itu hanyalah gagasan yang abstrak.
Upayaku adalah menghancurkan keimaman sepenuhnya. Ia telah tetap bersama Tuhan, ia telah tetap bersama agama tanpa Tuhan, sekarang satu-satunya cara adalah kita seharusnya menyingkirkan keduanya, Tuhan dan agama, sehingga tidak ada kemungkinan keimaman apa pun.
Maka manusia benar-benar bebas, sepenuhnya bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri. Perasaanku adalah bahwa semakin besar seseorang bertanggung jawab atas pertumbuhannya sendiri, semakin sulit baginya untuk menundanya terlalu lama. Karena itu berarti jika engkau sengsara, engkau bertanggung jawab. Jika engkau tegang, engkau bertanggung jawab. Jika engkau tidak rileks, engkau bertanggung jawab. Jika engkau menderita, engkau adalah penyebabnya. Tidak ada Tuhan, tidak ada imam yang bisa engkau datangi dan meminta ritual. Engkau dibiarkan sendirian dengan kesengsaraanmu, dan tidak ada seorang pun yang ingin sengsara.
Para imam terus memberimu candu, mereka terus memberimu harapan, "Jangan khawatir, itu hanya ujian atas imanmu, kepercayaanmu; dan jika engkau bisa melewati kesengsaraan dan penderitaan ini dengan tenang dan sabar, di alam sana setelah kematian engkau akan diberikan pahala yang luar biasa." Jika tidak ada keimaman, engkau harus memahami bahwa apa pun dirimu, engkau bertanggung jawab atasnya, bukan siapa pun yang lain.
Dan perasaan bahwa "Aku bertanggung jawab atas kesengsaraanku," membuka pintunya. Maka engkau mulai mencari metode dan cara untuk keluar dari kondisi yang menyedihkan ini, dan itulah meditasi. Ia hanyalah kebalikan dari keadaan kesengsaraan, penderitaan, kesedihan, kecemasan. Ia adalah keadaan dari keberadaan yang damai, penuh kebahagiaan, begitu hening dan begitu abadi sehingga engkau tidak bisa membayangkan apa pun yang lebih baik dari itu. Dan tidak ada yang lebih baik daripada keadaan pikiran yang meditatif.
.. Dan inilah sikapku: engkau ada di sini, setiap individu ada di sini, seluruh semesta tersedia. Semua yang engkau butuhkan hanyalah menjadi hening dan mendengarkan semesta.
Tidak perlu agama apa pun, tidak perlu Tuhan apa pun, tidak perlu imam apa pun, tidak perlu organisasi apa pun.
Aku secara tegas percaya pada individu. Tidak ada seorang pun hingga saat ini, yang telah percaya pada individu dengan cara seperti itu.
Jadi, semua hal bisa disingkirkan. Sekarang, semua yang telah tersisa bagimu adalah keadaan meditasi, yang hanya berarti keadaan keheningan total. Kata "meditasi" membuatnya tampak lebih berat. Itu lebih baik untuk menyebutnya hanya sebagai keheningan yang sederhana dan polos, dan semesta membuka semua keindahannya kepadamu.
Dan saat ia terus bertumbuh, engkau terus tumbuh, dan tibalah saatnya ketika engkau telah mencapai puncak itu sendiri dari potensimu - engkau bisa menyebutnya Kebuddhaan, pencerahan, bhagwatta, ketuhanan, apa pun, ia tidak memiliki nama, jadi nama apa pun bisa digunakan.
Osho ~ The Last Testament, Vol 5, Chpt 16