Inspirasi Master Rajneesh

Directions Website

Inspirasi Master Rajneesh Kami menerjemahkan ucapan Master Osho ke dalam bahasa Indonesia, semoga bisa menginspirasi pembaca.

01/11/2026
KESEDIHAN BUKANLAH SIFAT ALAMI KEHIDUPANDunia ini bersedih, dunia ini diliputi penderitaan. Ada penderitaan yang begitu ...
01/11/2026

KESEDIHAN BUKANLAH SIFAT ALAMI KEHIDUPAN

Dunia ini bersedih, dunia ini diliputi penderitaan. Ada penderitaan yang begitu besar di dalam hati manusia. Namun, engkau tidak perlu ikut bersedih karenanya, karena alasannya sederhana: dengan menjadi sedih, engkau justru bergabung dengan mereka dan menciptakan lebih banyak kesedihan.

Itu bukanlah pertolongan. Sama halnya ketika orang-orang sedang sakit, lalu engkau melihat penyakit mereka dan engkau pun ikut jatuh sakit. Penyakitmu tidak akan membuat mereka sehat. Penyakitmu hanya akan menciptakan lebih banyak penyakit.

Turut merasakan kesedihan mereka bukan berarti engkau harus menjadi sedih. Turut merasakan kesedihan mereka berarti mencari penyebab dari segala sesuatu yang menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan mereka, lalu membantu mereka menyingkirkan penyebab-penyebab itu. Pada saat yang sama, engkau harus tetap segembira mungkin, karena kegembiraanmulah yang akan membantu mereka, bukan kesedihanmu. Engkau harus tetap ceria. Mereka perlu tahu bahwa ada kemungkinan untuk tetap ceria di dunia yang penuh kesedihan ini. Mereka telah kehilangan harapan sepenuhnya, karena ke mana pun mereka memandang, yang mereka lihat hanyalah kesedihan. Mereka telah menerima kenyataan bahwa kesedihan memang merupakan kodrat segala sesuatu — engkau tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya; engkau harus menanggungnya.

Para guru agama hanya memberi mereka penghiburan, menyodorkan berbagai omong kosong yang tak masuk akal dan gagasan-gagasan munafik. Selama berabad-abad, mereka telah membiarkan manusia tetap hidup dalam kesengsaraan karena mereka membuat manusia menerima kesengsaraan sebagai bagian dari kehidupan. Bukan hanya itu, mereka bahkan telah mengangkat kesedihan dan kesengsaraan ke suatu kedudukan spiritual. Mereka telah mengatakan kepada manusia, "Berbahagialah orang-orang yang miskin." Jadi, mereka bukan hanya menerima kesedihan sebagai kenyataan hidup yang tak bisa mereka ubah, melainkan juga mulai merasa senang karenanya, menganggapnya sebagai sesuatu yang spiritual, sebagai ujian yang diberikan Tuhan kepada mereka.

Orang-orang kaya tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Tuhan; justru orang-orang miskin dan sengsara yang akan masuk - mereka akan disambut dengan sukacita besar dan diterima dengan tangan terbuka. Yang perlu mereka lakukan hanyalah tidak banyak mempersoalkan kesengsaraan mereka - menerimanya sebagai berkah yang terselubung. Jika selama berabad-abad engkau terus mengatakan hal-hal semacam itu, engkau meracuni pikiran manusia. Namun, tampaknya mereka tidak sendirian dalam kesedihan mereka; semua orang juga bersedih.

Sesungguhnya, mereka akan merasa takut untuk bergembira di tengah kerumunan besar orang-orang yang bersedih ini.

Jadi, tidak akan ada gunanya jika setiap kali melihat mereka bersedih, engkau ikut menjadi sedih. Itu hanya akan semakin meyakinkan mereka bahwa kegembiraan tidak ada di bumi, bahwa kegembiraan adalah sesuatu yang hanya ada di alam lain—bahwa nasib dan takdir bumi adalah kesengsaraan. Karena itu, cukup tunjukkan kepada mereka melalui contoh bahwa anggapan itu tidak benar: “Jika aku bisa tetap ceria dan bersukacita, seluruh bangunan teori bodoh kalian terbukti tidak relevan.”

Jadi, ketika aku mengatakan untuk menjadi ceria, berbahagia, dan bersukacita karena engkau tidak berada dalam kondisi yang sengsara atau menderita, ada tujuan tertentu di baliknya. Tujuannya adalah agar engkau bisa menjadi contoh bagi orang-orang yang telah benar-benar lupa bahwa hidup ini juga bisa menjadi sebuah perayaan yang penuh sukacita. Di tengah segala kegelapan, engkau tetap bisa membebaskan diri dari kegelapan tersebut; engkau tetap bisa menari. Kegelapan tidak bisa menghalangi tarianmu; ia tidak memiliki kekuatan untuk mencegahnya.

Aku ingin para sannyasinku di seluruh dunia menjadi contoh. Dan ketika orang-orang melihat begitu banyak orang bersukacita, tanda tanya akan mulai muncul dalam benak mereka. Mungkin selama ini mereka telah menerima filosofi yang keliru, dan penderitaan sebenarnya bukanlah takdir bagi bumi ini: "Tampaknya tidak demikian, karena di bumi yang sama ini ada orang-orang yang bersukacita, yang hidup dalam kebahagiaan yang luar biasa." Kita harus meruntuhkan ideologi mereka yang konyol itu, dan satu-satunya cara adalah dengan menjalani hidup yang berbeda - bukan sekadar hidup seperti mereka; jika tidak, berarti engkau justru mendukung mereka.

(Osho - The Sword and the Lotus)

ALAM - SUMBER UTAMA KEHIDUPAN KITAPepohonan adalah alam - bukankah manusia juga bagian dari alam? Udara adalah alam, beg...
30/10/2026

ALAM - SUMBER UTAMA KEHIDUPAN KITA

Pepohonan adalah alam - bukankah manusia juga bagian dari alam? Udara adalah alam, begitu p**a matahari dan bulan -bukankah mata, senyuman, dan air mata juga merupakan bagian dari alam? Sebagaimana bumi terus tumbuh menjadi pepohonan, ia pun terus tumbuh menjadi manusia. Ini adalah alam yang sama, ekologi yang sama, satu kesatuan yang utuh - dan semuanya saling bergantung. Segala sesuatu bergantung pada segala hal lainnya.

Tapi pikiran Barat cenderung sangat agresif. Alam harus ditaklukkan. Engkau harus bertarung dengan sesama, engkau harus bertarung melawan alam; tidak hanya itu, engkau bahkan harus bertarung melawan diri sendiri. Ada tiga jenis pertarungan ini: manusia bertarung melawan sesama manusia, manusia bertarung melawan alam, dan manusia bertarung melawan dirinya sendiri. Ketika manusia bertarung melawan sesama manusia, itulah politik. Ketika manusia bertarung melawan alam, itulah ilmu pengetahuan. Dan ketika manusia bertarung melawan dirinya sendiri, itulah agama.

Itulah sebabnya agamaku adalah mencintai diri sendiri. Seseorang yang mencintai dirinya sendiri akan mencintai orang lain. Dengan begitu, akan tercipta jenis politik yang sama sekali berbeda; politik yang berlandaskan pada cinta. Seseorang yang mencintai dirinya sendiri dan orang lain juga akan mencintai alam - sebab pepohonan adalah sesama makhluk, burung-burung adalah sesama makhluk, begitu p**a hewan-hewan. Maka, akan lahir p**a jenis ilmu pengetahuan yang berbeda di dunia ini. Namun, ilmu pengetahuan tersebut harus bersumber dari agama, karena agama adalah inti yang paling dalam. Karena engkau membenci diri sendiri, engkau pun membenci orang lain dan membenci alam. Semua itu hanyalah gema dari kebencian mendasar yang terus engkau bawa di dalam dirimu.

Hal lain yang juga merupakan sebuah fakta adalah bahwa kita hidup berdampingan dengan pepohonan. Hancurkan semua pohon, maka engkau akan mati. Engkau menghirup oksigen, sementara pohon melepaskan oksigen. Engkau mengembuskan karbon dioksida, sedangkan pohon menyerap karbon dioksida. Jadi, ketika engkau dikelilingi oleh pepohonan, engkau akan merasa lebih hidup. Ini bukan sekadar puisi. Ketika engkau memasuki hutan dan tiba-tiba muncul luapan kegembiraan di dalam hatimu, engkau mendadak merasa lebih hidup — seolah-olah hijaunya pepohonan membuat dirimu juga menjadi hijau. Ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan ilmu pengetahuan yang murni. Hal itu terjadi karena terdapat lebih banyak oksigen, lebih banyak denyut kehidupan yang bergetar di sekelilingmu, dan lebih banyak energi kehidupan.

Dan ketika engkau menghirup oksigen itu, darahmu menjadi lebih bersih. Engkau bisa membuang racun-racun dari dalam tubuh dengan lebih mudah, sehingga engkau bisa menjalani hidup secara maksimal. Jadi, ada hubungan kemitraan antara manusia dan pepohonan. Pepohonan menyerap zat yang engkau keluarkan, mengolahnya, lalu menghasilkan oksigen untukmu. Engkau menghirup oksigen tersebut, menggunakannya, kemudian mengeluarkan karbon dioksida.

Pepohonan memanfaatkan karbon dioksida sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, terdapat hubungan kemitraan yang sempurna antara manusia dan pepohonan.

Ada sebuah kisah Zen yang terkenal….

Seorang raja memberi tahu tukang kayunya yang sudah tua bahwa ia menginginkan sebuah meja tertentu. Orang tua itu berkata, “Aku sudah sangat tua, dan anakku belum siap. Ia masih belajar sedikit demi sedikit. Namun, aku akan mencoba, aku akan melakukan yang terbaik. Beri aku waktu.”

Selama tiga hari, orang tua itu menghilang ke dalam hutan. Setelah tiga hari, ia kembali.

Sang raja bertanya, “Perlu waktu tiga hari hanya untuk membawa sedikit kayu untuk membuat meja?”

Tukang kayu tua itu berkata, “Terkadang perlu tiga hari, terkadang tiga bulan. Bahkan, terkadang engkau mungkin tidak menemukan kayu yang tepat selama tiga tahun. Ini adalah seni yang sulit.”

Sang raja kebingungan. Ia berkata, “Jelaskan. Apa maksudmu? Jelaskan secara terperinci.”

Orang tua itu berkata, “Pertama-tama, aku harus berpuasa - karena hanya ketika berpuasa, pikiranku perlahan-lahan menjadi tenang. Ketika pikiranku melambat, semua pikiran menghilang. Semua agresi pun lenyap. Saat itu, aku tidak lagi diliputi kekerasan; yang ada hanyalah welas asih dan cinta yang murni - suatu getaran yang berbeda. Ketika aku merasakan getaran tanpa pikiran itu, barulah aku memasuki hutan, karena hanya melalui getaran itulah aku bisa menemukan pohon yang tepat. Dengan sikap agresif, bagaimana engkau bisa menemukan pohon yang tepat?”

“Aku juga harus bertanya langsung kepada pepohonan itu apakah salah satu di antaranya bersedia menjadi sebuah meja. Aku pergi, melihat-lihat sekeliling, dan ketika aku merasakan bahwa pohon ini bersedia…. Kesediaan itu hanya bisa dirasakan ketika pikiranku hening. Jadi, aku berpuasa, bermeditasi - dan ketika aku benar-benar kosong sepenuhnya, aku sekadar berkeliling di antara pepohonan untuk merasakan keberadaan mereka.

“Ketika aku merasa bahwa pohon ini cocok, aku duduk di sisinya dan meminta izinnya—‘Aku akan memotong salah satu cabangmu. Apakah engkau bersedia?’ Jika pohon itu menjawab ya dengan sepenuh hati, barulah aku memotongnya. Jika tidak, siapa aku ini sampai berhak memotong cabangnya?”

Nah, ini adalah pendekatan yang sama sekali berbeda. Tidak ada pertentangan antara manusia dan pohon; yang ada adalah persahabatan. Manusia berusaha menjalin keselarasan dengan pepohonan, lalu meminta izin mereka. Bagi pikiran Barat, ini tidak masuk akal. Pikiran Barat berkata, “Omong kosong apa yang sedang kaubicarakan? Meminta izin kepada pohon? Apakah engkau sudah gila? Bagaimana mungkin pohon bisa menjawab ya atau tidak?” Namun, sekarang bahkan ilmu pengetahuan Barat pun perlahan-lahan mulai menyadari bahwa pohon bisa menjawab ya atau tidak. Kini, ada instrumen canggih yang bisa mendeteksi suasana hati sebuah pohon—apakah pohon itu bersedia atau tidak, apakah pohon itu bahagia atau tidak bahagia. Instrumen-instrumen halus kini telah dikembangkan, seperti halnya kardiogram. Engkau bisa membuat kardiogram sebuah pohon. Instrumen elektronik bisa mendeteksi suasana hati pohon.

Ketika seorang penebang kayu mendekati pohon, pohon itu terguncang oleh rasa takut, merasa sedih, ketakutan, dan berpegang erat pada kehidupannya. Tidak ada seorang Taois pun yang akan menebang pohon dalam keadaan seperti itu - tidak, sama sekali tidak. Jika pohon itu tidak bersedia, lalu siapa kita ini? Hanya ketika pohon itu sendiri siap untuk berbagi, barulah pohon itu boleh ditebang. Meja ini pun akan memiliki kualitas yang berbeda. Meja ini merupakan pemberian dari pohon; meja ini tidak dirampas darinya. Pohon itu tidak dirampok, tidak ditaklukkan. Tidaklah sulit untuk memahami bahwa meja ini akan memiliki getaran yang berbeda. Ada sesuatu yang sakral padanya. Jika engkau meletakkan meja ini di kamarmu, engkau akan menciptakan suatu jenis ruang tertentu di sekelilingnya, sesuatu yang tidak mungkin tercipta dengan meja-meja lainnya. Meja itu akan hadir sebagai sahabatmu karena engkau telah bersahabat dengannya. Meja itu akan menjadi bagian dari keluargamu, bukan seperti anggota tubuh yang dipotong dari seorang musuh.

Pikiran Barat telah terlalu agresif terhadap dirinya sendiri maupun terhadap alam. Sikap itu telah menciptakan skizofrenia di antara manusia, melahirkan politik dan perang, serta menciptakan krisis ekologis.

Namun, kini segala sesuatunya telah mencapai titik ekstrem. Manusia harus berbalik arah dan meninggalkan sikap agresif Barat, atau bersiap-siap mengucapkan selamat tinggal kepada planet ini. Planet ini tidak sanggup lagi menoleransi manusia; planet ini sudah terlalu lama menoleransinya.

(OSHO - Sufis: The People of the Path, Vol 2)

29/10/2026

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG MENDERITA

Aku ingin menambahkan satu keberkahan lagi atas keberkahan Yesus yang lain: "Berbahagialah mereka yang ada dalam penderitaan, karena mereka akan mencapai kesadaran yang sempurna."

Melalui penderitaanlah jalannya. Ia melewati banyak neraka - karena tanpa penderitaan, tidak ada seorang pun yang bisa menjadi sadar.

Itulah mengapa burung-burung tidak sadar - mereka tidak sedang dalam penderitaan. Pohon-pohon tidak sadar, mereka tidak sedang dalam penderitaan. Hanya manusia yang menderita, manusia adalah hal khusus. Engkau seharusnya bangga akan hal itu. Manusia adalah fenomena yang luar biasa, manusia bukanlah alam biasa. Manusia adalah sesuatu kejadian yang baru dalam alam, tetapi ia begitu baru sehingga bahkan manusia pun tidak sadar akan apa yang sedang terjadi padanya.

Engkau telah tersesat sehingga engkau harus mencari dan menemukan di mana rumahmu. Engkau harus berusaha untuk kembali p**ang.

OSHO ~ Just Like That, Chpt 3

29/10/2026

KISAH SUFI: MULLA NASRUDDIN MEMANAH

Sebuah kisah Sufi yang besar:

Mulla Nasruddin membawa murid-muridnya ke sebuah pertunjukan. Banyak hal yang sedang terjadi di pertunjukan itu. Di satu tempat orang-orang mempertaruhkan banyak uang dan berusaha menembakkan panah untuk mencapai target tertentu. Mulla mengumpulkan murid-muridnya dan dia berkata, "Ikutlah, dan aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Itulah cara Sufi mengajar para muridnya. Dia mengambil busur dan anak panah - sebuah kerumunan besar berkumpul: "Seorang Master Sufi dan murid-muridnya - sesuatu sedang terjadi!"

Orang-orang menonton dengan sangat diam. Dengan pertunjukkan yang hebat, Mulla menembakkan anak panahnya... ia jatuh sangat dekat, ia tidak pernah mencapai sasarannya. Kerumunan mulai tertawa. Mulla berkata, "Berhenti! Jangan bodoh."Dia berpaling kepada murid-muridnya dan berkata, "Lihatlah, inilah yang terjadi ketika engkau hidup dengan rendah diri. Inilah bagaimana orang yang menderita rendah diri akan bertindak - dia tidak akan pernah mencapai target; dia akan gagal. Seluruh hatinya tidak ada di dalamnya."

Kerumunan menjadi diam: "Ya, ada pelajaran di dalamnya."

Panah berikutnya ... dan ia hanya pergi jauh ke depan, meninggalkan targetnya di belakang. Itu juga sebuah kegagalan; kerumunan mulai tertawa lagi. Dan Mulla berkata, "Diam! Kalian tidak mengerti rahasia ini." Dia berpaling kepada murid-muridnya dan berkata, "Lihatlah, inilah bagaimana perilaku orang yang menganggap dirinya sangat unggul. Dia tidak akan pernah mencapai targetnya. Dia berlari begitu cepat sehingga dia akan melewati tujuannya, dan dia tidak akan berhenti di tujuannya. Dia terlalu percaya diri. Dia juga tidak seimbang."

Kerumunan kembali terdiam: "Ya, di sana ada pelajaran."

Dan Mulla mencoba untuk ketiga kalinya... dan anak panah itu langsung mengenai sasaran. Sekarang kerumunan terdiam dan menunggu apa yang akan Mulla ajarkan kepada murid-muridnya.

Dia pergi ke pemilik pertunjukan itu dan meminta uang. Pemiliknya berkata, "Mengapa?"

Dia berkata, "Inilah aku! Yang pertama adalah panah dari seseorang yang menderita rendah diri, yang kedua adalah panah dari orang yang menderita tinggi hati - dan inilah anak panah Mulla Nasruddin. Mana uangnya?"

Inilah yang terus kita lakukan. Dalam setiap situasi, perhatikanlah. Ketika engkau gagal, itu adalah Tuhan, itu adalah takdir, itu adalah masyarakat, keadaan ... seribu satu nama. Tapi fenomena sederhananya adalah engkau tidak mau mengambil tanggung jawabnya karena itu menyakiti ego. Tetapi ketika engkau berhasil, itu selalu engkau - itu tidak pernah Tuhan, tidak pernah takdir, tidak pernah keadaan, tidak pernah strategi licikmu, tidak. Itu hanya engkau, bakatmu, kejeniusanmu, kecerdasanmu. Itu selalu engkau ketika engkau berhasil.

Perhatikanlah ego, dan jangan memberinya makan. Ia mati jika engkau tidak memberinya makan. Jika engkau berhenti memberinya makan, ia akan mati kelaparan.

OSHO ~ The Fish in the Sea is not Thirsty, Chpt 2
Pic. Istock

29/10/2026

Psikologi modern berusaha menyelesaikan setiap masalah satu per satu. Itu sia-sia. Satu pukulan saja dan semua masalah menghilang, dan pukulan itu adalah meditasi. Jadi jangan pernah peduli dengan masalahnya satu per satu, hanya satu pengalaman saja cukup untuk menghancurkan mereka semua. Jika tidak, jika engkau berjuang melawan kemarahan, engkau mungkin berhasil menaklukkannya, tapi kemudian kemarahan akan mulai mengalir ke arah lain, dari tempat lain.

Kecuali jika meditasi terjadi, tidak ada apa pun yang terjadi.

Osho ~ Turn On, Tune In and Drop the Lot (Darshan Diary)

29/10/2026

Kebahagiaan adalah polaritas lain dari ketidakbahagiaan. Orang yang bahagia pasti menjadi tidak bahagia cepat atau lambat; orang yang tidak bahagia akan menjadi bahagia lagi - itu adalah lingkaran setan. Ia seperti roda: engkau terus bergerak dalam lingkaran yang sama berkali-kali.

Kebahagiaan sejati adalah pelampauan: saat melihat dualitas kehidupan, saat melihat konflik yang terus-menerus dari polaritas dalam hidup, orang hanya menjadi penyaksi.

Dunia tetap sama, tetapi engkau tidak lagi sama; engkau hidup di dunia yang sama tetapi engkau adalah orang yang sama sekali berbeda. Engkau dilahirkan lagi.

Osho ~ Even Bein' Gawd Ain't a Bed of Roses, Darshan Diary

29/10/2026

MELIHAT KESALAHAN DIRI SENDIRI

Pertanyaan:
Master terkasih, mengapa aku tak bisa melihat kesalahanku sendiri sementara aku sangat mampu untuk melihat kesalahan orang lain, bahkan yang terkecil sekalipun?

Jawaban Osho:
Prageeta, itu sangat wajar. Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Mata kita terfokus pada orang lain; kita berorientasi pada orang lain. Kita hanya melihat orang lain – ini bukan hanya soal kesalahan – kita tidak pernah melihat diri kita sendiri. Bahkan jika kita ingin melihat diri kita sendiri, kita harus melihat ke kaca, kita harus menciptakan bayangannya. Ketika bayangan ada di sana, orang lain telah muncul. Cermin membantu kita untuk melihat diri kita sendiri karena ia menciptakan orang lain. Jika tidak, kita benar-benar ekstrover; kita telah melupakan bahasa bagaimana melihat ke dalam. Karenanya, sebagai akibatnya, engkau tidak bisa melihat kesalahanmu sendiri; tidak ada seorang pun yang bisa.

Pada saat engkau mulai melihat kesalahan-kesalahanmu, mereka mulai berjatuhan seperti daun-daun kering. Maka tidak ada lagi yang harus dilakukan; melihat mereka saja cukup. Hanya menjadi sadar akan kesalahanmu adalah semua yang diperlukan. Dalam kesadaran itu, mereka mulai menghilang, mereka menguap. Orang bisa terus melakukan kesalahan tertentu hanya jika dia tetap tidak menyadarinya. Ketidaksadaran adalah keharusan untuk terus melakukan kesalahan yang sama. Bahkan jika engkau berusaha untuk berubah, engkau akan melakukan kesalahan yang sama dalam bentuk yang lain. Dan mereka datang dalam segala ukuran dan segala bentuk. Engkau akan mengubah, engkau akan mengganti, tetapi engkau tidak bisa menjatuhkannya, karena jauh di dalam engkau tidak melihat bahwa itu adalah kesalahan. Orang lain mungkin memberitahumu karena mereka bisa melihatnya.

Itulah mengapa setiap orang menganggap dirinya begitu indah, begitu cerdas, begitu berbudi luhur, begitu suci – dan tidak seorang pun setuju dengannya! Alasannya sederhana: engkau melihat orang lain, engkau melihat kenyataan mereka, dan tentang dirimu sendiri engkau membawa khayalan – khayalan yang indah. Tentang dirimu sendiri, engkau sangat penuh khayalan. Semua yang engkau ketahui tentang dirimu kurang lebih hanyalah mitos; itu tidak ada hubungannya dengan kenyataan.

Pada saat orang melihat kesalahannya sendiri, perubahan yang radikal terjadi. Karenanya, semua Buddha sepanjang masa hanya mengajarkan satu hal: kesadaran. Mereka tidak mengajarkanmu karakter. Karakter itu diajarkan oleh para imam, politisi, tetapi bukan oleh para Buddha. Para Buddha mengajarkan kesadaran – bukan hati nurani. Hati nurani adalah tipuan yang dimainkan padamu oleh orang lain. Orang lain memberitahumu apa yang benar dan apa yang salah; mereka memaksakan gagasan mereka kepadamu. Dan mereka terus memaksakannya sejak masa kanak-kanakmu sendiri, ketika engkau begitu polos, begitu rentan, begitu rapuh, sehingga itu mungkin untuk meninggalkan kesan apa pun padamu, jejak apa pun padamu. Mereka telah mengondisikanmu sejak awalnya. Pengondisian itu disebut hati nurani, dan hati nurani itu terus mendominasi seluruh hidupmu. Hati nurani adalah strategi masyarakat untuk memperbudakmu.

Para Buddha mengajarkan kesadaran.

Kesadaran berarti engkau tidak harus belajar dari orang lain, apa yang benar dan apa yang salah; tidak perlu untuk belajar dari siapa pun. Engkau hanya perlu masuk ke dalam; perjalanan batin saja sudah cukup. Semakin dalam engkau pergi, semakin banyak kesadaran yang dilepaskan. Ketika engkau mencapai pusatnya, engkau begitu penuh dengan cahaya sehingga kegelapan menghilang. Ketika engkau membawa cahaya ke dalam kamarmu, engkau tidak perlu mengusir kegelapan keluar dari ruangan. Kehadiran cahaya sudah cukup karena kegelapan hanyalah tidak adanya cahaya. Begitu p**a semua ketidakwarasan dan kegilaanmu.

Tetapi semua orang bisa melihat kesalahan orang lain, jadi jangan khawatir tentang hal itu, Prageeta. Inilah situasi yang dialami semua orang... Jadi, jangan khawatir tentang kesalahan, kekeliruan, dan kekurangan. Jadilah peduli tentang satu hal, satu fenomena; curahkan seluruh energimu ke dalam satu tujuan, dan itu adalah bagaimana untuk menjadi lebih sadar, bagaimana untuk menjadi lebih tercerahkan.

Osho ~ The Dhammapada: The Way of the Buddha, Vol. 11, Chpt 4.

Address

Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Inspirasi Master Rajneesh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share