30/10/2026
ALAM - SUMBER UTAMA KEHIDUPAN KITA
Pepohonan adalah alam - bukankah manusia juga bagian dari alam? Udara adalah alam, begitu p**a matahari dan bulan -bukankah mata, senyuman, dan air mata juga merupakan bagian dari alam? Sebagaimana bumi terus tumbuh menjadi pepohonan, ia pun terus tumbuh menjadi manusia. Ini adalah alam yang sama, ekologi yang sama, satu kesatuan yang utuh - dan semuanya saling bergantung. Segala sesuatu bergantung pada segala hal lainnya.
Tapi pikiran Barat cenderung sangat agresif. Alam harus ditaklukkan. Engkau harus bertarung dengan sesama, engkau harus bertarung melawan alam; tidak hanya itu, engkau bahkan harus bertarung melawan diri sendiri. Ada tiga jenis pertarungan ini: manusia bertarung melawan sesama manusia, manusia bertarung melawan alam, dan manusia bertarung melawan dirinya sendiri. Ketika manusia bertarung melawan sesama manusia, itulah politik. Ketika manusia bertarung melawan alam, itulah ilmu pengetahuan. Dan ketika manusia bertarung melawan dirinya sendiri, itulah agama.
Itulah sebabnya agamaku adalah mencintai diri sendiri. Seseorang yang mencintai dirinya sendiri akan mencintai orang lain. Dengan begitu, akan tercipta jenis politik yang sama sekali berbeda; politik yang berlandaskan pada cinta. Seseorang yang mencintai dirinya sendiri dan orang lain juga akan mencintai alam - sebab pepohonan adalah sesama makhluk, burung-burung adalah sesama makhluk, begitu p**a hewan-hewan. Maka, akan lahir p**a jenis ilmu pengetahuan yang berbeda di dunia ini. Namun, ilmu pengetahuan tersebut harus bersumber dari agama, karena agama adalah inti yang paling dalam. Karena engkau membenci diri sendiri, engkau pun membenci orang lain dan membenci alam. Semua itu hanyalah gema dari kebencian mendasar yang terus engkau bawa di dalam dirimu.
Hal lain yang juga merupakan sebuah fakta adalah bahwa kita hidup berdampingan dengan pepohonan. Hancurkan semua pohon, maka engkau akan mati. Engkau menghirup oksigen, sementara pohon melepaskan oksigen. Engkau mengembuskan karbon dioksida, sedangkan pohon menyerap karbon dioksida. Jadi, ketika engkau dikelilingi oleh pepohonan, engkau akan merasa lebih hidup. Ini bukan sekadar puisi. Ketika engkau memasuki hutan dan tiba-tiba muncul luapan kegembiraan di dalam hatimu, engkau mendadak merasa lebih hidup — seolah-olah hijaunya pepohonan membuat dirimu juga menjadi hijau. Ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan ilmu pengetahuan yang murni. Hal itu terjadi karena terdapat lebih banyak oksigen, lebih banyak denyut kehidupan yang bergetar di sekelilingmu, dan lebih banyak energi kehidupan.
Dan ketika engkau menghirup oksigen itu, darahmu menjadi lebih bersih. Engkau bisa membuang racun-racun dari dalam tubuh dengan lebih mudah, sehingga engkau bisa menjalani hidup secara maksimal. Jadi, ada hubungan kemitraan antara manusia dan pepohonan. Pepohonan menyerap zat yang engkau keluarkan, mengolahnya, lalu menghasilkan oksigen untukmu. Engkau menghirup oksigen tersebut, menggunakannya, kemudian mengeluarkan karbon dioksida.
Pepohonan memanfaatkan karbon dioksida sebagai sumber makanannya. Dengan demikian, terdapat hubungan kemitraan yang sempurna antara manusia dan pepohonan.
Ada sebuah kisah Zen yang terkenal….
Seorang raja memberi tahu tukang kayunya yang sudah tua bahwa ia menginginkan sebuah meja tertentu. Orang tua itu berkata, “Aku sudah sangat tua, dan anakku belum siap. Ia masih belajar sedikit demi sedikit. Namun, aku akan mencoba, aku akan melakukan yang terbaik. Beri aku waktu.”
Selama tiga hari, orang tua itu menghilang ke dalam hutan. Setelah tiga hari, ia kembali.
Sang raja bertanya, “Perlu waktu tiga hari hanya untuk membawa sedikit kayu untuk membuat meja?”
Tukang kayu tua itu berkata, “Terkadang perlu tiga hari, terkadang tiga bulan. Bahkan, terkadang engkau mungkin tidak menemukan kayu yang tepat selama tiga tahun. Ini adalah seni yang sulit.”
Sang raja kebingungan. Ia berkata, “Jelaskan. Apa maksudmu? Jelaskan secara terperinci.”
Orang tua itu berkata, “Pertama-tama, aku harus berpuasa - karena hanya ketika berpuasa, pikiranku perlahan-lahan menjadi tenang. Ketika pikiranku melambat, semua pikiran menghilang. Semua agresi pun lenyap. Saat itu, aku tidak lagi diliputi kekerasan; yang ada hanyalah welas asih dan cinta yang murni - suatu getaran yang berbeda. Ketika aku merasakan getaran tanpa pikiran itu, barulah aku memasuki hutan, karena hanya melalui getaran itulah aku bisa menemukan pohon yang tepat. Dengan sikap agresif, bagaimana engkau bisa menemukan pohon yang tepat?”
“Aku juga harus bertanya langsung kepada pepohonan itu apakah salah satu di antaranya bersedia menjadi sebuah meja. Aku pergi, melihat-lihat sekeliling, dan ketika aku merasakan bahwa pohon ini bersedia…. Kesediaan itu hanya bisa dirasakan ketika pikiranku hening. Jadi, aku berpuasa, bermeditasi - dan ketika aku benar-benar kosong sepenuhnya, aku sekadar berkeliling di antara pepohonan untuk merasakan keberadaan mereka.
“Ketika aku merasa bahwa pohon ini cocok, aku duduk di sisinya dan meminta izinnya—‘Aku akan memotong salah satu cabangmu. Apakah engkau bersedia?’ Jika pohon itu menjawab ya dengan sepenuh hati, barulah aku memotongnya. Jika tidak, siapa aku ini sampai berhak memotong cabangnya?”
Nah, ini adalah pendekatan yang sama sekali berbeda. Tidak ada pertentangan antara manusia dan pohon; yang ada adalah persahabatan. Manusia berusaha menjalin keselarasan dengan pepohonan, lalu meminta izin mereka. Bagi pikiran Barat, ini tidak masuk akal. Pikiran Barat berkata, “Omong kosong apa yang sedang kaubicarakan? Meminta izin kepada pohon? Apakah engkau sudah gila? Bagaimana mungkin pohon bisa menjawab ya atau tidak?” Namun, sekarang bahkan ilmu pengetahuan Barat pun perlahan-lahan mulai menyadari bahwa pohon bisa menjawab ya atau tidak. Kini, ada instrumen canggih yang bisa mendeteksi suasana hati sebuah pohon—apakah pohon itu bersedia atau tidak, apakah pohon itu bahagia atau tidak bahagia. Instrumen-instrumen halus kini telah dikembangkan, seperti halnya kardiogram. Engkau bisa membuat kardiogram sebuah pohon. Instrumen elektronik bisa mendeteksi suasana hati pohon.
Ketika seorang penebang kayu mendekati pohon, pohon itu terguncang oleh rasa takut, merasa sedih, ketakutan, dan berpegang erat pada kehidupannya. Tidak ada seorang Taois pun yang akan menebang pohon dalam keadaan seperti itu - tidak, sama sekali tidak. Jika pohon itu tidak bersedia, lalu siapa kita ini? Hanya ketika pohon itu sendiri siap untuk berbagi, barulah pohon itu boleh ditebang. Meja ini pun akan memiliki kualitas yang berbeda. Meja ini merupakan pemberian dari pohon; meja ini tidak dirampas darinya. Pohon itu tidak dirampok, tidak ditaklukkan. Tidaklah sulit untuk memahami bahwa meja ini akan memiliki getaran yang berbeda. Ada sesuatu yang sakral padanya. Jika engkau meletakkan meja ini di kamarmu, engkau akan menciptakan suatu jenis ruang tertentu di sekelilingnya, sesuatu yang tidak mungkin tercipta dengan meja-meja lainnya. Meja itu akan hadir sebagai sahabatmu karena engkau telah bersahabat dengannya. Meja itu akan menjadi bagian dari keluargamu, bukan seperti anggota tubuh yang dipotong dari seorang musuh.
Pikiran Barat telah terlalu agresif terhadap dirinya sendiri maupun terhadap alam. Sikap itu telah menciptakan skizofrenia di antara manusia, melahirkan politik dan perang, serta menciptakan krisis ekologis.
Namun, kini segala sesuatunya telah mencapai titik ekstrem. Manusia harus berbalik arah dan meninggalkan sikap agresif Barat, atau bersiap-siap mengucapkan selamat tinggal kepada planet ini. Planet ini tidak sanggup lagi menoleransi manusia; planet ini sudah terlalu lama menoleransinya.
(OSHO - Sufis: The People of the Path, Vol 2)