23/10/2024
Jokowi dan Politik Machiavelli: Kepemimpinan Pragmatis yang Sulit Ditebak
Oleh : Babeh Mulyo disadur dari berbagai sumber
Dalam sejarah pemikiran politik, Machiavelli dikenal sebagai seorang yang pragmatis, percaya bahwa pemimpin harus fokus pada hasil, bukan pada cara yang ideal. Jika dibandingkan dengan gaya kepemimpinan Presiden Jokowi selama dua periode, tampak beberapa kesamaan prinsip Machiavellian, terutama dalam hal bagaimana Jokowi mengelola kekuasaan dan menghadapi tantangan politik di Indonesia.
1. Fokus pada Hasil, Bukan Prosedur
Salah satu ciri khas Machiavelli adalah gagasan bahwa seorang pemimpin yang baik harus bisa mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata, bukan idealisme moral yang kaku. Hal ini sejalan dengan langkah-langkah Jokowi dalam kebijakan infrastrukturnya. Meskipun beberapa kebijakan, seperti pembangunan infrastruktur besar-besaran dan hilirisasi produk mentah, menuai kritik karena dianggap melanggar aturan internasional atau melangkahi prosedur hukum, Jokowi tetap melanjutkannya demi manfaat jangka panjang bagi ekonomi Indonesia. Bagi Jokowi, keberhasilan dalam mencapai pembangunan tampaknya lebih penting daripada aturan yang dianggap menghambat .
2. Kekuasaan sebagai Alat untuk Bertahan
Dalam pandangan Machiavelli, kekuasaan harus digunakan untuk menjaga stabilitas dan memastikan keberlangsungan pemerintahan. Jokowi menunjukkan pemahaman yang sama ketika ia melakukan langkah-langkah politik yang sulit ditebak, seperti mengajak rivalnya, Prabowo Subianto, masuk dalam kabinetnya. Langkah ini dianggap sebagai strategi politik untuk meredam potensi perpecahan dan menjaga stabilitas pemerintahan. Selain itu, kemampuannya untuk menaklukkan atau "mengondisikan" partai-partai besar seperti Golkar dan PAN menunjukkan bahwa Jokowi memahami pentingnya aliansi politik dalam menjaga kekuasaannya .
3. Menggunakan Kritik sebagai Senjata
Machiavelli berpendapat bahwa seorang pemimpin harus cerdik dalam menghadapi kritik dan ancaman dari lawan politik. Jokowi menghadapi banyak olokan dan serangan, seperti tuduhan "plonga-plongo" atau hanya menjadi "boneka" partai. Namun, Jokowi justru memanfaatkan kritik ini untuk menunjukkan kekuatan politiknya di akhir masa jabatan. Dia membuktikan bahwa dirinya bukanlah pemimpin yang bisa diatur dengan mudah, dan dengan cerdik memposisikan putranya, Gibran, di panggung politik nasional .
4. Machiavelli: Keadilan dan Kekejaman
Machiavelli menekankan bahwa terkadang pemimpin harus menggunakan kekerasan atau kekejaman jika itu diperlukan untuk menjaga kekuasaan dan stabilitas. Dalam kasus Jokowi, meskipun tidak menggunakan kekerasan fisik, beberapa langkah politiknya dianggap "kasar" oleh para pengamat, terutama ketika ia mendepak tokoh-tokoh yang dianggap terlalu kritis terhadapnya, termasuk beberapa tokoh partai besar. Namun, seperti yang diungkapkan Machiavelli, selama kekejaman itu untuk menjaga negara, maka hal tersebut bisa dianggap sah .
Kesimpulan
Dapat dikatakan bahwa beberapa prinsip Machiavellian dapat terlihat dalam gaya politik Jokowi selama memimpin Indonesia. Keberhasilannya dalam memanfaatkan kekuasaan, menghadapi kritik, dan menjaga stabilitas pemerintahan dengan langkah-langkah pragmatis menunjukkan bahwa Jokowi bukan hanya sekadar pemimpin sederhana, tetapi juga sosok yang memahami dinamika kekuasaan seperti yang digambarkan oleh Machiavelli.
Sumber:
1. Machiavelli, Niccolo. The Prince. 1532.
2. Hamid, Ahmad Syafii. "Pragmatisme Politik dalam Era Kepemimpinan Jokowi." Jurnal Politik dan Kebijakan, 2019.
3. Aspinall, Edward. "Democracy, Politics and Governance in Indonesia: From Transition to Consolidation." Asian Journal of Political Science, 2020.
4. Winters, Jeffrey A. "Oligarchy and Democracy in Indonesia." Indonesia Journal of Politics and Governance, 2018.