AIDS-INA

AIDS-INA Portal Komunitas AIDS Indonesia memberikan penguatan informasi yang strategis untuk penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia

Lanjutan refleksi tentang RAN HIV/AIDS 2025–2029 yang belum juga final.Banyak yang bertanya: mengapa target menuju Tripl...
08/03/2026

Lanjutan refleksi tentang RAN HIV/AIDS 2025–2029 yang belum juga final.

Banyak yang bertanya: mengapa target menuju Triple 95 tidak langsung “loncat” besar saja? Mengapa dibuat bertahap?

Jawabannya sederhana: kapasitas program tidak bisa dinaikkan sekaligus.
Ia harus dibangun secara berurutan, realistis, dan berkelanjutan.

Infografis terlampir mencoba menjelaskan logika di balik pendekatan bertahap tersebut.

1️⃣ Kapasitas program harus dibangun berlapis
Menaikkan target testing, misalnya, tidak cukup hanya menambah alat tes.
Ia membutuhkan kesiapan banyak komponen sekaligus:
Laboratorium, sistem logistik, ketersediaan ARV, reagen viral load, layanan komunitas, hingga sistem tindak lanjut pasien.

Jika salah satu komponen tertinggal, dampaknya bisa serius:
Mutu layanan menurun, pasien hilang dari pengobatan, atau sistem menjadi terbebani.

2️⃣ Kaskade HIV saling bergantung
Menemukan kasus melalui testing hanyalah langkah pertama.
Setelah itu, pasien harus mulai ART, bertahan dalam layanan, dan mencapai supresi viral.

Jika testing naik terlalu cepat tanpa kesiapan ART, banyak pasien berisiko tidak segera mendapatkan pengobatan.
Sebaliknya, jika ART diperluas tanpa kapasitas viral load yang memadai, kualitas monitoring akan tertinggal.

Karena itu, setiap tahap dalam kaskade harus tumbuh bersama.

3️⃣ Populasi yang tersisa semakin sulit dijangkau
Peningkatan dari 65% ke 70% biasanya relatif lebih mudah.
Namun mengejar dari 88% menuju 95% jauh lebih sulit, karena kelompok yang tersisa seringkali adalah populasi yang:

• tersembunyi
• sangat mobile
• menghadapi stigma
• jauh dari layanan kesehatan

Artinya pendekatan komunitas dan outreach justru menjadi semakin penting di tahap akhir.

4️⃣ Pembiayaan dan SDM juga tidak bisa naik sekaligus
Menuju 2030, kebutuhan program meningkat signifikan:
Tambahan ratusan miliar hingga lebih dari Rp1 triliun per tahun, serta hampir 3.000 petugas tambahan untuk testing, ART, laboratorium viral load, PrEP, dan outreach.

Proses anggaran, pengadaan, distribusi, rekrutmen, hingga pelatihan SDM tentu membutuhkan waktu.

Karena itu, pendekatan bertahap bukan berarti lambat — justru agar ekspansi program bisa realistis dan berkelanjutan.

Inilah mengapa RAN HIV/AIDS 2025–2029 menjadi sangat penting.
Dokumen ini bukan sekadar rencana administratif, tetapi peta jalan bagaimana kapasitas program dibangun langkah demi langkah menuju Triple 95 pada 2030.

Semoga proses finalisasinya segera selesai, sehingga energi kita bisa kembali difokuskan pada yang paling penting:
Memperkuat outreach, memperluas layanan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam respons HIV di Indonesia.

Kuartal I 2026 hampir berakhir.Namun, hingga hari ini, RAN HIV/AIDS 2025–2029 masih juga belum final.Padahal waktu menuj...
08/03/2026

Kuartal I 2026 hampir berakhir.
Namun, hingga hari ini, RAN HIV/AIDS 2025–2029 masih juga belum final.

Padahal waktu menuju target Triple 95 pada 2030 semakin sempit.
Infografis terlampir (bahkan dalam skenario paket paling hemat) menunjukkan bahwa mencapai target tersebut membutuhkan ekspansi program yang sangat signifikan:

• Biaya program meningkat tajam, dari ratusan miliar menjadi lebih dari Rp1 triliun per tahun pada 2030
• Volume layanan melonjak drastis, jutaan tambahan tes HIV, ratusan ribu pasien ART aktif, dan ratusan ribu pemeriksaan viral load
• Kebutuhan SDM bertambah hampir 3.000 petugas hingga 2030 untuk testing, ART, PrEP, laboratorium VL, dan outreach komunitas

Dengan skala tantangan seperti ini, arah strategi nasional menjadi sangat krusial.

Namun diskusi kita sering terjebak pada dua pendekatan yang seolah berlawanan:

Model vertikal (agile) yang berdiri sendiri memang selama ini membuat program HIV relatif cepat bergerak. Tapi realitasnya, dukungan dana donor semakin menurun, termasuk dari Global Fund. Tanpa integrasi yang lebih kuat dengan sistem nasional, keberlanjutan pembiayaan akan semakin rapuh, terutama untuk layanan inti seperti pengobatan dan monitoring klinis.

Di sisi lain, integrasi penuh ke dalam sistem kesehatan nasional (misalnya melalui layanan primer atau skema JKN) juga bukan tanpa risiko. Birokrasi sistem kesehatan sering kali bergerak lebih lambat dibandingkan dengan dinamika epidemi HIV, terutama dalam menjangkau populasi kunci yang masih menghadapi stigma dan membutuhkan pendekatan yang sangat spesifik.

Karena itu, RAN 2025–2029 seharusnya tidak memilih salah satu ekstrem.

Pendekatan yang paling realistis adalah model hibrida:

1️⃣ Integrasi untuk keberlanjutan (treatment & care)
Pengujian HIV, pengobatan ARV, dan pemantauan pasien stabil diarusutamakan ke dalam sistem layanan kesehatan primer seperti Puskesmas.
Layanan ini dapat disinergikan dengan program TB, IMS, kesehatan ibu dan anak, serta intervensi gizi untuk efisiensi operasional dan transisi pembiayaan ke anggaran domestik.

2️⃣ Agilitas di garis depan (prevention & outreach)
Sementara itu, kegiatan pencegahan—termasuk outreach, distribusi kondom, NSP, dan PrEP—tetap perlu dijalankan secara lincah melalui jaringan komunitas dan organisasi berbasis masyarakat.
Model community-led responses memungkinkan penjangkauan populasi kunci tetap cepat, fleksibel, dan sensitif terhadap konteks sosial.

3️⃣ Optimalisasi berbasis data
Dengan ruang fiskal yang semakin terbatas, alokasi sumber daya tidak bisa lagi bersifat pukul rata.
Pemodelan epidemi, evaluasi berbasis Theory of Change, dan analisis data lapangan harus menjadi dasar untuk mengidentifikasi kantong penularan secara real-time dan memprioritaskan intervensi yang paling berdampak.

Dengan kata lain, Triple 95 bukan hanya soal menambah layanan, tetapi juga menata ulang cara sistem bekerja.

Karena itu, finalisasi RAN 2025–2029 menjadi semakin mendesak.
Tanpa arah strategis yang jelas, kita berisiko kehilangan waktu yang sangat berharga untuk melakukan transformasi sistem yang memang dibutuhkan.

Target 2030 masih mungkin dicapai.
Namun, setiap bulan keterlambatan kebijakan berarti jarak menuju target semakin jauh.

Semoga RAN 2025–2029 segera difinalkan—bukan sekadar sebagai dokumen, tetapi sebagai peta jalan yang realistis untuk menjaga keberlanjutan respons HIV di Indonesia.

Selamat Tahun Baru 2025, teman-teman! Di tahun yang baru ini, penting banget kita mengingat tujuan besar kita untuk menc...
01/01/2025

Selamat Tahun Baru 2025, teman-teman! Di tahun yang baru ini, penting banget kita mengingat tujuan besar kita untuk mencapai Ending AIDS 2030. Salah satu langkah awal yang bisa kita ambil adalah dengan mendapatkan informasi yang tepat tentang AIDS.

Informasi yang tepat tentang AIDS ternyata masih belum merata diterima oleh masyarakat. Ini penting, kerena dengan memahami cara penularan, pencegahan, dan pengobatan yang tepat, kita bisa membantu mengurangi stigma dan mendukung mereka yang terpengaruh.

Mari bersama-sama berbagi informasi akurat dan positif tentang AIDS di komunitas kita. Dengan pengetahuan yang benar, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua orang. Jadi, yuk mulai tahun ini dengan semangat baru untuk berkontribusi dalam mencapai Ending AIDS 2030!

Selamat Hari Inovasi Indonesia. Inovasi adalah kemampuan mengambil sebuah hal lama, yang sudah ada sebelumnya kemudian d...
01/11/2024

Selamat Hari Inovasi Indonesia. Inovasi adalah kemampuan mengambil sebuah hal lama, yang sudah ada sebelumnya kemudian dikemas dengan sebuah bentuk baru dan membuatnya lebih bermanfaat. Apa saja inovasi prorgam penanggulangan AIDS yang sedang berjalan.

Selain AIDS Ending Epidemic, ada tujuan lain yg perlu dicapai yaitu: Pengentasan Kemiskinan. Keduanya sangat berkaitan t...
17/10/2024

Selain AIDS Ending Epidemic, ada tujuan lain yg perlu dicapai yaitu: Pengentasan Kemiskinan. Keduanya sangat berkaitan tidak bisa berjaln sendiri-sendiri. Mari kita berupaya AIDS Ending Epidemic bersama dengan mengentaskan kemiskianan.

Selamat Hari Pengentasan Kemiskanan Sedunia

Saat pandemi yang lalu Cuci Tangan Pakai Sabun selalu digaungkan. Semoga kita tidak lupa pada saat ini, karena cuci tang...
15/10/2024

Saat pandemi yang lalu Cuci Tangan Pakai Sabun selalu digaungkan. Semoga kita tidak lupa pada saat ini, karena cuci tangan pakai sabun tetap penting walupun bukan saat pandemi.

Selamat Hari Cuci Tangan Sedunia, 15 Oktober 2024.

Mantap. Presiden terpilih Prabowo Subianto telah merumuskan visi besar untuk masa depan Indonesia dengan mengusung Progr...
15/10/2024

Mantap.

Presiden terpilih Prabowo Subianto telah merumuskan visi besar untuk masa depan Indonesia dengan mengusung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang ditargetkan dilaksanakan mulai tahun 2025.

Kementerian Keuangan telah menyampaikan bahwa kenaikan anggaran ini sebagian besar disebabkan oleh penambahan Rp 8 triliun khusus untuk program penanganan TBC, dengan tujuan untuk mengurangi prevalensi penyakit tersebut secara signifikan.

Prabowo Mengusung PHTC dengan Anggaran Rp 121 Triliun, Termasuk Penuntasan TBC.

Selamat hari kesehatan mental sedunia, 10 Oktober 2024. Kesehatan Mental di Tempat Kerja
10/10/2024

Selamat hari kesehatan mental sedunia, 10 Oktober 2024. Kesehatan Mental di Tempat Kerja

Calon Kepala Desa Perlu Tes HIV. Keliatanya oke, tergantung tujuannya? Tujuan tes Kesehatan bagi calon pejabat publik di...
04/10/2024

Calon Kepala Desa Perlu Tes HIV. Keliatanya oke, tergantung tujuannya? Tujuan tes Kesehatan bagi calon pejabat publik diperuntukkan utk menjamin si calon tdk terganggu kesehatannya ketika menjabat. Nah kalau diminta tes HIV juga apa tujuannya?

LABUAN BAJO, FLORESPOS.net-Semua bakal calon kepala desa di Indonesia perlu tes HIV-AIDS terlebih dahulu sebelum ditetapkan jadi calon kepala desa. HIV-AIDS penyakit yang berbahaya, bisa mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehubungan dengan ini, tentunya dimulai dari bakal calon presiden/b...

Ketika DepKes-nya Filipina sudah merasa khawatir dengan peningkatan kasus HIV baru 55 per hari. Rasa khawatir tersebut t...
19/06/2024

Ketika DepKes-nya Filipina sudah merasa khawatir dengan peningkatan kasus HIV baru 55 per hari. Rasa khawatir tersebut tentu telah memandu Depkes Filipina untuk mengambil langkah-langkah penanganan yang lebih serius.

Namun, muncul pertanyaan: Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sudah merasa khawatir dengan penambahan kasus harian HIV? Berapa jumlah kasus harian HIV yang membuat pemerintah Indonesia merasa khawatir? Berapa kasus harian HIV saat ini?

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7395028/lonjakan-kasus-hiv-bikin-filipina-ketar-ketir-ada-55-infeksi-baru-dalam-sehari

Kemkes mencatat 16.410 kasus baru HIV pada tahun 2023 di Indonesia. Berarti setiap hari ada 45 kasus HIV baru atau 2 orang terinfeksi setiap jamnya. 5 provinsi terbanyak adalah Jabar, Jatim, Jateng, Bali, Jakarta.

https://data.goodstats.id/statistic/10-provinsi-dengan-jumlah-kasus-aids-baru-terbanyak-2023-dRItI

Berapa Kasus harian HIV di tahun 2024? Ternyata belum ada data terbaru dari Kemenkes. Laporan triwulan terakhir yang dipublikasikan adalah Triwulan I Tahun 2023. Mungkinkah pemantauan dapat dilakukan tanpa adanya pelaporan yang rutin? Kalau secara nasional tidak ada, apakah ada provinsi atau kabupaten/kota yang mempublikasikan data penambahan kasus HIV secara rutin? Semoga ada

https://hivaids-pimsindonesia.or.id/download?kategori=Laporan%20Triwulan

Kalau melihat beberapa berita online di daerah, memang ada yang mewartakan jumlah kasus HIV dan bersumber dari Dinkes setempat. Tetapi apakah semua daerah mempunyai laporan itu dan seberarpa sering? Itulah yang masih jadi tanda tanya. Jadi kalau tidak semua daerah mempunyai laporan rutin jadi sulit untuk memberikan gambaran terkait jumlah kasus HIV saat ini secara nasional. Semoga Kemkes sebenarnya mempunyai laporan kasus rutin tetapi belum sempat dipublikasikan saja. Sehingga dapat menjadi pedoman dalam memantau dan menentukan langkah yang tepat.

Selamat hari sosial Media, mari gunakan sosial media untuk mengajak orang untuk mencegah HIV lebih meluar. Cegah HIV den...
10/06/2024

Selamat hari sosial Media, mari gunakan sosial media untuk mengajak orang untuk mencegah HIV lebih meluar.

Cegah HIV dengan tes HIV.

Address

Jalan Kramat Sentiong No. 49A
Jakarta
10450

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AIDS-INA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Practice

Send a message to AIDS-INA:

Share