08/03/2026
Lanjutan refleksi tentang RAN HIV/AIDS 2025–2029 yang belum juga final.
Banyak yang bertanya: mengapa target menuju Triple 95 tidak langsung “loncat” besar saja? Mengapa dibuat bertahap?
Jawabannya sederhana: kapasitas program tidak bisa dinaikkan sekaligus.
Ia harus dibangun secara berurutan, realistis, dan berkelanjutan.
Infografis terlampir mencoba menjelaskan logika di balik pendekatan bertahap tersebut.
1️⃣ Kapasitas program harus dibangun berlapis
Menaikkan target testing, misalnya, tidak cukup hanya menambah alat tes.
Ia membutuhkan kesiapan banyak komponen sekaligus:
Laboratorium, sistem logistik, ketersediaan ARV, reagen viral load, layanan komunitas, hingga sistem tindak lanjut pasien.
Jika salah satu komponen tertinggal, dampaknya bisa serius:
Mutu layanan menurun, pasien hilang dari pengobatan, atau sistem menjadi terbebani.
2️⃣ Kaskade HIV saling bergantung
Menemukan kasus melalui testing hanyalah langkah pertama.
Setelah itu, pasien harus mulai ART, bertahan dalam layanan, dan mencapai supresi viral.
Jika testing naik terlalu cepat tanpa kesiapan ART, banyak pasien berisiko tidak segera mendapatkan pengobatan.
Sebaliknya, jika ART diperluas tanpa kapasitas viral load yang memadai, kualitas monitoring akan tertinggal.
Karena itu, setiap tahap dalam kaskade harus tumbuh bersama.
3️⃣ Populasi yang tersisa semakin sulit dijangkau
Peningkatan dari 65% ke 70% biasanya relatif lebih mudah.
Namun mengejar dari 88% menuju 95% jauh lebih sulit, karena kelompok yang tersisa seringkali adalah populasi yang:
• tersembunyi
• sangat mobile
• menghadapi stigma
• jauh dari layanan kesehatan
Artinya pendekatan komunitas dan outreach justru menjadi semakin penting di tahap akhir.
4️⃣ Pembiayaan dan SDM juga tidak bisa naik sekaligus
Menuju 2030, kebutuhan program meningkat signifikan:
Tambahan ratusan miliar hingga lebih dari Rp1 triliun per tahun, serta hampir 3.000 petugas tambahan untuk testing, ART, laboratorium viral load, PrEP, dan outreach.
Proses anggaran, pengadaan, distribusi, rekrutmen, hingga pelatihan SDM tentu membutuhkan waktu.
Karena itu, pendekatan bertahap bukan berarti lambat — justru agar ekspansi program bisa realistis dan berkelanjutan.
Inilah mengapa RAN HIV/AIDS 2025–2029 menjadi sangat penting.
Dokumen ini bukan sekadar rencana administratif, tetapi peta jalan bagaimana kapasitas program dibangun langkah demi langkah menuju Triple 95 pada 2030.
Semoga proses finalisasinya segera selesai, sehingga energi kita bisa kembali difokuskan pada yang paling penting:
Memperkuat outreach, memperluas layanan, dan memastikan tidak ada yang tertinggal dalam respons HIV di Indonesia.