02/07/2017
Menikmati Malam Pertama (Bagian 1) : Adab-Adab Malam Pertama
Walaupun memang judulnya Malam Pertama, tapi bukan berarti hanya bisa dilakukan di malam hari. Melakukan JIMA’ pertama kali boleh kapan saja; pagi, siang, sore, ataupun malam silahkan, tergantung kesediaan pasangan.
Malam Pertama? Sebuah malam yang membuat pasangan pengantin berdebar-debar menghadapinya. Berdebar karena akan melakukan sesuatu yang sama sekali baru bagi mereka. Berdebar karena membayangkan begitu indah dan nikmatnya malam itu. Berdebar (bagi wanita) karena banyak yang bercerita bahwa malam pertama itu “SAKIT” (tentu saja tidak demikian bagi mereka yang melakukannya dengan benar, dengan kasih sayang, Cinta dan do’a)
Saat pertama kali pengantin pria menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut, Bismillah… :
PERTAMA: Hendaknya ia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama istrinya.
Ada Hadits dari Abu Sa’id maula (budak yang telah dimerdekakan) Abu Usaid. Ia berkata:
“Aku menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat. Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka mengajariku,
‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua shalat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua…!’
KEDUA: Pengantin pria hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya seraya mendo’akannya.
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa. (HR. Al Bukhari)
(Bagi anda yang susah menghafal, silahkan lakukan sambil membacanya. Ada di kumpulan do’a seperti buku kecil Hisnul Muslim.)
KETIGA: Berinteraksi dengan penuh kelembutan dan kemesraan.
Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata:
“Saya merias ‘Aisyah untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam disodori segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.”
‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!’
Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.”
KEEMPAT: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama, atau ML)
Hendaklah ia membaca do’a (Yang ini wajib dihafal, karena do’a ini akan sering anda ucapkan). Do’a nya:
سْمِ اللهِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا.
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.”
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.”
PERHATIAN!!
Bagi anda pengantin baru, sebelum melakukan jima’ sangat dianjurkan untuk membuka komunikasi terlebih dahulu. Apalagi bagi anda yang memang belum kenal betul siapa pasangan anda (ta’aruf , khitbah langsung nikah). Bangun komunikasi dan rasa nyaman istri. Baru setelah itu anda bisa foreplay sekaligus berkomunikasi, bertanya dan bereksplorasi mengenai apa yang membuat istri anda merasakan kenikmatan. Setelah istri merasa siap dan sudah terangsang, silahkan dilanjutkan ke tahap jima’.
KELIMA: Suami boleh menggauli istrinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
” Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangi-lah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 223]
Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau:
“Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” [Al-Baqarah : 223]
Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh”.
Selanjutnya MMP Bagian 2 »» Bagaimana caranya MP tidak sakit dan berdarah ?
Mau Bersetubuh Tahan Lama Klik Link ini :
http://www.tokopedia.com/trenmart/cingcui