30/05/2026
𝗕𝗔𝗚𝗔𝗜𝗠𝗔𝗡𝗔 𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 TUNA WICARA 𝗜𝗡𝗚𝗜𝗡 𝗠𝗘𝗡𝗬𝗘𝗠𝗕𝗘𝗟𝗜𝗛 𝗗𝗔𝗡 𝗗𝗜𝗔 𝗧𝗜𝗗𝗔𝗞 𝗕𝗜𝗦𝗔 𝗠𝗘𝗡𝗚𝗨𝗖𝗔𝗣𝗞𝗔𝗡 𝗕𝗜𝗦𝗠𝗜𝗟𝗟𝗔𝗛?
Imam Ṣhāliḥ (203 H – 266 H), putra Imam Aḥmad, berkata dalam kitab Masā’il-nya (hlm. 245):
“Ayahku menceritakan kepadaku, beliau berkata: Husain menceritakan kepada kami, beliau berkata: Khārijah bin Muṣ‘ab menceritakan kepada kami dari Khālid al-Ḥażżā’, ia berkata: ‘Ikrimah ditanya:
“Bagaimana orang bisu menyembelih?”
Beliau menjawab:
“Ia memberi isyarat dengan tangannya ke langit ☝️”.
قَالَ الْإِمَامُ صَالِحٌ (٢٠٣ هـ - ٢٦٦ هـ) بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ فِي 📚 مَسَائِلِهِ (ص ٢٤٥):
حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ قَالَ: حَدَّثَنَا خَارِجَةُ بْنُ مُصْعَبٍ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ قَالَ: سُئِلَ عِكْرِمَةُ، كَيْفَ يَذْبَحُ الْأَخْرَسُ؟
قَالَ: يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى السَّمَاءِ ☝️.
((Masaail Al-Imam Ahmad bin Hanbal, hlm 245))
Hal itu karena dalam penyembelihan disyaratkan menyebut nama Allah, maka orang bisu memberi isyarat dengan tangannya ke langit sebagai isyarat kepada ketinggian Allah, bahwa Dia ada di atas langit di atas ‘Arsy-Nya, dan sebagai pengganti penyebutan nama Allah karena ucapan tidak mungkin dilakukan dalam keadaannya.
Isyaratnya ke langit adalah isyarat kepada Allah Ta‘ala, dan itu kedudukannya sebagai pengganti pelafalan.
Catatan:
bahasa isyarat sudah diterima, dicontohkan dan dipahami sejak dahulu kala zaman para Imam terdahulu.