28/07/2026
Saat berjuang melewati masa kritis karena gigitan ular hijau ekor merah (Trimeresurus albolabris) yang disengaja demi sebuah penelitian.
Saya kira ini adalah hari-hari terakhir saya. Istri saya panik, orang tua saya cemas, anak saya merindukan saya. Entah apa yang akan terjadi nanti, saya pun tak tahu. Usai dilakukan banyak pemeriksaan, saya pun disarankan mendapatkan transfusi darah fresh frozen plasma. Bukan darah yang berwarna merah, melainkan darah yang berwarna kuning. Setelah tindakan tersebut dilakukan, kondisi saya perlahan kembali membaik dan stabil. Dalam benak saya, saya kira ini hanya mimpi panjang yang tiada ujungnya. Hari dimana saya perlahan mulai paham dengan arti kehidupan, di sana saya melihat istri saya dengan setia menunggu kesembuhan saya, berdoa, dan berharap agar saya bisa pulang kembali menemui anak dan keluarga saya. Di sanalah keyakinan saya mulai muncul bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Oo iya, selama saya dirawat di dua rumah sakit, saya mendapatkan sekitar 14 vial serum anti bisa ular, beberapa suntikan antibiotik, suntikan anti alergi, beberapa cairan infus, transfusi darah, dan tindakan medis lainnya. Saya masuk rumah sakit mulai dari tanggal 10-11 Desember 2020 (RSUD Karangasem), dan 11-16 Desember 2020 (RSUP Prof. I. G. N. G. Ngoerah).
Setelah saya sembuh dan diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit, saya pun pulang dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur. Orang tua dan anak saya tersenyum melihat kedatangan saya. Bersamaan dengan itu, kebetulan mertua saya juga ada di rumah. Jadi saya dan istri saya disambut oleh kedua keluarga saya.
Terima kasih anakku, terima kasih istriku, terima kasih orang tuaku, dan terima kasih mertuaku. Terima kasih RSUD Karangasem. Terima kasih RSUP Prof. I. G. N. G. Ngoerah, Bali. Terima kasih semuanya atas apa yang sudah saya jalani, dan apa yang sudah saya dapatkan. Terima kasih.