28/05/2026
Sentilan Keras Guru Besar UIN: Sapi Kurban Rp100 Miliar Pakai APBN, Ibadah atau Pencitraan Politik? 🧐💸
Debat panas soal 1.098 ekor sapi kurban Presiden Prabowo yang dibiayai uang negara senilai Rp100 miliar makin menggelinding liar! Kali ini, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Ahmad Tholabi Kharlie, ikut buka suara dan memberikan analisis menohok yang bikin kita mikir keras.
Menurut Prof. Tholabi, polemik ini bukan cuma soal boleh atau enggak, tapi soal etika tata kelola keuangan negara modern agar tidak bercampur aduk antara ibadah personal pejabat dengan duit rakyat!
Sapi APBN: Kurban Presiden atau Bansos Negara?
🕌 SECARA FIKIH, JANGAN SALAH SEBUT!
Prof. Tholabi menegaskan, dalam Islam, ibadah kurban itu sifatnya personal dan harus pakai harta milik pribadi agar sah aspek kepemilikannya. Jadi, kalau anggarannya murni dari APBN, kurang tepat kalau disebut sebagai "Kurban Personal Presiden". Istana harus jujur memosisikan program ini sebagai "Sedekah Negara" (shadaqah al-dawlah) atau program sosial berbasis momentum Iduladha.
Hati-hati Politisasi Simbol Agama!
Di satu sisi, pengadaan sapi skala raksasa ini memang bagus untuk membantu peternak lokal dan membagikan daging ke warga miskin. Tapi di sisi lain, tata kelolanya wajib diwaspadai!
Prof. Tholabi mengingatkan bahwa program berbau agama yang pakai duit APBN sangat rawan dipersepsikan sebagai instrumen pencitraan politik kalau komunikasinya salah.
"Dalam negara hukum modern, penggunaan APBN tidak boleh bercampur dengan kepentingan personal pejabat negara," tegas Wakil Rektor UIN Jakarta ini. Kuncinya, distribusi harus transparan, akuntabel, dan bebas dari kepentingan politik terselubung!
Nah loh! Setuju gak kalian dengan kritik objektif dari pakar hukum Islam dan tata negara ini? Apakah istilah "Kurban Presiden" memang harus diganti jadi "Bansos Daging Negara"?
Yuk, tulis pendapat cerdas kalian di kolom komentar! 👇