03/08/2026
*SAVITRI, SURYA & MRTYUNJAYA*
Terdapat kesamaan dalam mantra pujian *Savitri, Surya & Mrtyunjaya*. Savitri yang dikenal sebagai Dewi fajar dihormati dengan bediri dipagi hari dan bisa duduk disenja hari. Savitri sang fajar dipuja dipagi hari saat *brahma muhurta-cahaya fajar kemerahan* diufuk timur.
Surya dengan *rakta teja- cahaya kemerahan* dipuja sebagai *param jyotir-cahaya tertinggi* yang hakikatnya *Siwa* bersemayam ditengah teratai putih dengan mana Siwa berstana pada cahaya *Shukla* (putih).
*Mrtyunjaya- Rakta Sraya*, merupakan Sang penunduk kematian tempat bergantungnya segala kehidupan yang juga berwarna *kemerahan*. *Savitri, Surya & Mrtyunjaya* adalah sang *Cahaya Merah* sumber kehidupan sang pelebur klesa.
A. *GAYATRI (SAVITRI)*
Tat savitur varenyam
bhargo devasya dhīmahi
dhiyo yo nah pracodayāt
Terjemahan:
Marilah kita pusatkan pikiran pada kecemerlangan Tuhan semoga ia limpahkan penerangan pada budhi nurani kita.
Sebagai Ibu dari segala mantra Veda, gayatri memiliki kekuatan untuk memperoleh berbagai anugrah. Atarwa Weda Kanda XIX. Sukta 71. mantra 1 yang menjelaskan sebagai berikut:
*Stuta maya varada veda mata*,
*Pracodayantam pawamani dwijanam*
*Ayuh pranam prajam pasum*
*Kertim dravinam brahmavarcanam*
*Mahyam dattva vrajata brahmalokam*
Terjemahan;
Gayatri Mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat adalah Ibunya empat Weda, yang menyucikan semua dosa para dwija, Oleh karena itu selalu ucapkan mantra tersebut, Gayatri Mantra ini pemberi panjang umur, prana dan keturunan yang baik, pelindung dari sifat binatang, pemberi kemashyuran, pemberi kekayaan dan pemberi cahaya yang sempurna, mengantarkan menuju alam Brahma.
Dengan demikian sedikitnya ada sembilan manfaat yang sangat luar biasa yang diperoleh bagi mereka yang senantiasa melantunkan gayatri mantra antara lain:
1. Yang menyucikan semua dosa orang suci (dwija),
2. pemberi panjang umur (Ayu),
3. Daya Hidup Yang Kuat (Prana)
4. Keturunan yang baik (Prajam)
5. Pelindung dari sifat binatang (Pasum)
6. Pemberi kemashyuran (kertim)
7. Pemberi kekayaan (dravinam)
8. Pemberi cahaya pengetahuan yang sempurna, (Brahma varcanam)
9. Dan pada akhir dari kelahiran mengantarkan sang jiwa mencapai alam abadi (Brahma Loka).
Tentang kapan dan bagaimana melakukan pemujaan gayatri mantra Mānava Dharmaśāstra II.101 mengungkapkan:
पूर्वं संध्यं जपं स्तिष्ठेत् सावित्रीम् आर्क दर्शनात्
पश्चिमाम् तु समासीनः सम्यग् ऋक्ष विभावनात्
*pūrvaṁ saṁdhyaṁ japaṁ stiṣṭhet sāvitrīm ārka darśanāt*
*paścimām tu samāsīnaḥ samyag ṛkṣa vibhāvanāt*
Artinya:
Hendaknya ia berdiri diwaktu subuh mengu-capkan mantra Sāvitrī sampai matahari terbit, tetapi diwaktu sore boleh dengan cara duduk sampai cakrawala tampak dengan jelas. (Mānava Dharmaśāstra II.101)
Gayatri mantram hendaknya dijapakan pada pagi hari (brahma muhurta) atau dalam istilah Bali disebut galang kangin sampai dengan matahari terbit. Hendaknya p**a dilakukan dengan sikap berdiri atau padāsana. Sedangkan disore hari dapat dilakukan dengan duduk pada waktu senja kala. Hal ini menunjukan bahwa pemujaan Sawitri dipagi hari memiliki nilai tersendiri sehingga seseorang diharapkan berdiri dalam memberikan penghormatan.
B. SURYA (RAKTA TEJA)
Mengapa dipagi hari menjadi lebih penting? Mantram kramaning sembah yang merupakan surya stawa ini mengungkapkan sebagai berikut:
*Oṁ Ādityasya paraṁ jyoti,*
*rakta-teja namo’stu te*
*Śveta-paṅkaja-madhyastha,*
*Bhāskarāya namo’stu te.*
Terjemahan:
Om Tuhan Yang Maha Esa, (dalam nama dan rupa) Aditya cahaya tertinggi, yang bersinar merah, kami memuja-Mu, Engkau yang bersthana di tengah-tengah teratai putih, hormat kepada-Mu Bhaskara pencipta sinar berkilauan.
Surya dilukiskan bercahaya merah dengan tempat duduk singgasana teratai berwarna putih. Ia adalah paraṁ jyoti (cahaya tertinggi), dan juga Bhaskara (pemilik, pencipta cahaya). Cahaya kemerahan itulah yang nampak dipagi hari yang dipandang sebagai perwujudan Sawitri yang selamanya berada pada madya-tengah teratai putih, yang sesungguhnya adalah Shiwa yang suci, seperti yang tertuang dalam bait ke-2:
*Oṁ praṇāmya bhaṣkara devaṁ,*
*sarva kleśa vinaśanaṁ,*
*praṇāmyāditya śivārthaṁ,*
*bhukti mukti varapradaṁ.*
Terjemahan:
Oṁ sujud bhakti kepada Dewa Bhāskara, melenyapkan segala klesa, penderitaan, sujud kepada āditya yang sesungguhnya Śiwa, pemberi anugrah kebahagiaan jasmani rohani/lahir bathin.
Dalam bait kedua dari mantra kramaning sembah yang ditujukan kepada Surya, Tuhan dipuja sebagai Bhaskara artinya sang pemilik cahaya dan Pencipta Cahaya; sebagai penghancur segala penderitaan atau klesa (Sarwa klesa winasanam); Sebagai pusat pemujaan dan kesucian Śiwa; pemberi anugrah kebahagiaan jasmani dan rohani (bhukti mukti varapradaṁ). Sebagai sang pemilik cahaya atau Bhaskara identik dengan kata bhargah dalam savitri mantra.
Ia (Āditya) yang bercahaya kemerahan yang dipuja sebagai sang fajar seseungguhnya adalah śivārthaṁ (Shiwa sang pengatur alam semesta). Sebagai yang mengatur segalanya didalam Weda Tuhan sering disebut Rtawan atau Widhi. Dengan demikian Surya (kemerahan) dipuja sebagai cahaya tertinggi yang merupakan perwujudan dari Rtawan atau Widhi, sebagai penghancur segala penderitaan atau klesa (Sarwa klesa winasanam); Sebagai pusat pemujaan dan kesucian Śiwa; pemberi anugrah kebahagiaan jasmani dan rohani.
C. MERTYUNJAYA (RAKTA SRAYA)
Dalam puja banten durmenggala Sang Hyang Mertyunjaya dilukiskan berwarna merah. Mertyunjaya yang merupakan mantra yang sangat sakral dan merupakan pemujaan kepada Shiwa mengungkapkan sebagai berikut:
*Om mertyunjaya rakta sraya*
*Sarwa roga upadrawa*
*Papa mertyu sangkara*
*Sarwa kali kalika syah*
*Wigraha ngawipada*
*Susupena durmenggala*
*papa kroda winasaya*
*sarwa wighna ya namah swaha*.
Terjemahan:
Om Hyang Widhi hamba bersandar kepada Mertyunjaya yang berwarna merah, Sehingga manusia terhindar dari berbagai penyakit (sarwa roga), terhindar dari kesusahan (upadrawa ) perbuatana dosa (papa), dan terhindar dari kematian-pralaya (mertyu-sangkara), Segala dampak negatif dari pengaruh sang waktu menjauh.
Memiliki kelengkapan keterampilan (ngawipada) kemampuan memilah-milah baik dan buruk (wigraha), Lenyapnya dosa-dosa, kemarahan dan segala rintangan (papa kroda winasaya sarwa wighna ya namah swaha)
Kedurmenggalan adalah kotoran batin perbuatan-perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan diluar diri. Kekuatan alam yang bersifat negatif yang bisa mempengaruhi perilaku manusia sehingga cenderung memilih hal-hal negatif.
Dengan banten durmenggala diharapkan kekuatan negatif itu (sang kala purwa sangkala bajra, sang kala sakti, sang kala ngulengleng, sang kala petre) tidak merasuki pikiran dan mempengaruhi hati manusia (aja sira pati pepanjingan). Dengan keluranya halangan dari bhutakala diharapkan mampu menhadapi kehidupan ini dengan sehat panjang umur dan pada akhirnya fokus pada ajaran kalepasan (kamoksan).
Kalimat mertyunjaya rakta sraya yang artinya bergantung pada Mertyunjaya yang berwarna merah juga mengissyaratkan kemana manusia bersandar didalam kehidupan ini. Tempat yang sama yang mana juga mendi tempat bersandarnya alam semesta yaitu Rtawan. Sang Rtawan yang mengatur segala yang ada ini yang mana Hindu di Indonesia menyebutnya dengan Widhi. Widhi-lah yang membimbing manusia dari ketidak kekalan menuju pada yang kekal, dari kegelapan menuju cahaya terang, dari kematian menuju kehidupan abadi.
D. *SAVITRI-SURYA-MRTYUNJAYA*
Savitri-Surya-Mrtyunjaya memiliki persamaan yang menonjol. Savitri dikenal sebagai dewi fajar yang identik dengan cahaya kemerahan di ufuk timur. Surya yang dikenal sebagai Bhaskara (sang pemilik cahaya) juga dipuja dalam cahaya kemarahan. Mertyunjaya yang dikenal sebagai pemujaan kepada nama lain Shiwa sebagai tempat bersandarnya segala keberadaan ini, juga dalam warna merah. Merujuk pada Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46 yang menyebutkan bahwa Tuhan itu satu adanya:
*Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman*,
*Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh*.
Artinya:
Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok. Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan.
Dapat dipastikan bahwa yang bercahaya kemarahan Savitri-Surya-Mertyunjaya yang dipuja dalam mantra pujian adalah merujuk pada hakikat yang satu. Dalam bait mantram kramaning sembah kehadapan Surya rakta-teja (yang bercahaya kemerahan) yang sesungguhnya śivārthaṁ (Shiwa yang mengatur seluruh alam semesta). Dalam dua bait mantra pujian kepada Surya dinyatakan bahwa Surya dengan cahaya kemerahan adalah yang mengatur pergerakan alam semesta dengan hukum rtanya.
Shiwa Mertyunjaya yang juga berwarna kemerahan merupakan tempat menggantungkan diri agar lepas dari pengaruh negatif sang kala kalika.
Dimanakah cahaya merah dari Savitri-Surya-Mertyunjaya yang maha suci dan rahasia itu berada dan mengapa menjadi begitu penting? Dalam pujian kepada Surya yang disebut Agni-madhye Ravis caiva dapat diteusuri sebagai berikut:
*Om Agni-madhye Ravis caiva,*
*Ravi-madhye tu Candramah*
*Candra-madhye bhavec Shuklah,*
*Sukla-madhye sthitah Shivah.*
Terjemahan:
Sang Surya (Ravi) berwujud di dalam sang Api (Agni),
sang Bulan (Candra) di dalam sang Matahari (Ravi) ;
sang Cahaya putih-suci (Shuklah) berwujud di dalam sang Bulan,
sang Shiva hadir di dalam sang Cahaya putih-suci (Shuklah).
Dalam puja diatas *Shiwa* dilukiskan berstana ditengah *cahaya kesucian (Shuklah)* yang juga bermakna putih. Dengan demikian Mertyunjaya yang berwarna merah yang tiada lain adalah Siwa hadir dalam kesucian yang mana dinyatakan sebagai Shuklah-cahaya putih. Jadi didalam cahaya kesucian yang putih-suklah bersemayam
*Savitri-Surya-Mertyunjaya* yang merupakan inti kehidupan merah ditengah kesucian *shukla-putih*. Hal mana dapat dibuktikan bahwa sinar matahari yang berwarna putih sesungguhnya terdiri dari rangkaian warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu.