Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang

Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang Semoga Cahaya Pengetahuan Menjadi Suluh Bagi sang Jiwa

*SAVITRI, SURYA & MRTYUNJAYA*Terdapat kesamaan dalam mantra pujian *Savitri, Surya & Mrtyunjaya*. Savitri yang dikenal s...
03/08/2026

*SAVITRI, SURYA & MRTYUNJAYA*

Terdapat kesamaan dalam mantra pujian *Savitri, Surya & Mrtyunjaya*. Savitri yang dikenal sebagai Dewi fajar dihormati dengan bediri dipagi hari dan bisa duduk disenja hari. Savitri sang fajar dipuja dipagi hari saat *brahma muhurta-cahaya fajar kemerahan* diufuk timur.

Surya dengan *rakta teja- cahaya kemerahan* dipuja sebagai *param jyotir-cahaya tertinggi* yang hakikatnya *Siwa* bersemayam ditengah teratai putih dengan mana Siwa berstana pada cahaya *Shukla* (putih).

*Mrtyunjaya- Rakta Sraya*, merupakan Sang penunduk kematian tempat bergantungnya segala kehidupan yang juga berwarna *kemerahan*. *Savitri, Surya & Mrtyunjaya* adalah sang *Cahaya Merah* sumber kehidupan sang pelebur klesa.

A. *GAYATRI (SAVITRI)*
Tat savitur varenyam
bhargo devasya dhīmahi
dhiyo yo nah pracodayāt

Terjemahan:
Marilah kita pusatkan pikiran pada kecemerlangan Tuhan semoga ia limpahkan penerangan pada budhi nurani kita.

Sebagai Ibu dari segala mantra Veda, gayatri memiliki kekuatan untuk memperoleh berbagai anugrah. Atarwa Weda Kanda XIX. Sukta 71. mantra 1 yang menjelaskan sebagai berikut:
*Stuta maya varada veda mata*,
*Pracodayantam pawamani dwijanam*
*Ayuh pranam prajam pasum*
*Kertim dravinam brahmavarcanam*
*Mahyam dattva vrajata brahmalokam*

Terjemahan;
Gayatri Mantram yang diakhiri dengan kata pracodayat adalah Ibunya empat Weda, yang menyucikan semua dosa para dwija, Oleh karena itu selalu ucapkan mantra tersebut, Gayatri Mantra ini pemberi panjang umur, prana dan keturunan yang baik, pelindung dari sifat binatang, pemberi kemashyuran, pemberi kekayaan dan pemberi cahaya yang sempurna, mengantarkan menuju alam Brahma.

Dengan demikian sedikitnya ada sembilan manfaat yang sangat luar biasa yang diperoleh bagi mereka yang senantiasa melantunkan gayatri mantra antara lain:
1. Yang menyucikan semua dosa orang suci (dwija),
2. pemberi panjang umur (Ayu),
3. Daya Hidup Yang Kuat (Prana)
4. Keturunan yang baik (Prajam)
5. Pelindung dari sifat binatang (Pasum)
6. Pemberi kemashyuran (kertim)
7. Pemberi kekayaan (dravinam)
8. Pemberi cahaya pengetahuan yang sempurna, (Brahma varcanam)
9. Dan pada akhir dari kelahiran mengantarkan sang jiwa mencapai alam abadi (Brahma Loka).

Tentang kapan dan bagaimana melakukan pemujaan gayatri mantra Mānava Dharmaśāstra II.101 mengungkapkan:
पूर्वं संध्यं जपं स्तिष्ठेत् सावित्रीम् आर्क दर्शनात्
पश्चिमाम् तु समासीनः सम्यग् ऋक्ष विभावनात्
*pūrvaṁ saṁdhyaṁ japaṁ stiṣṭhet sāvitrīm ārka darśanāt*
*paścimām tu samāsīnaḥ samyag ṛkṣa vibhāvanāt*

Artinya:
Hendaknya ia berdiri diwaktu subuh mengu-capkan mantra Sāvitrī sampai matahari terbit, tetapi diwaktu sore boleh dengan cara duduk sampai cakrawala tampak dengan jelas. (Mānava Dharmaśāstra II.101)

Gayatri mantram hendaknya dijapakan pada pagi hari (brahma muhurta) atau dalam istilah Bali disebut galang kangin sampai dengan matahari terbit. Hendaknya p**a dilakukan dengan sikap berdiri atau padāsana. Sedangkan disore hari dapat dilakukan dengan duduk pada waktu senja kala. Hal ini menunjukan bahwa pemujaan Sawitri dipagi hari memiliki nilai tersendiri sehingga seseorang diharapkan berdiri dalam memberikan penghormatan.

B. SURYA (RAKTA TEJA)

Mengapa dipagi hari menjadi lebih penting? Mantram kramaning sembah yang merupakan surya stawa ini mengungkapkan sebagai berikut:

*Oṁ Ādityasya paraṁ jyoti,*
*rakta-teja namo’stu te*
*Śveta-paṅkaja-madhyastha,*
*Bhāskarāya namo’stu te.*

Terjemahan:
Om Tuhan Yang Maha Esa, (dalam nama dan rupa) Aditya cahaya tertinggi, yang bersinar merah, kami memuja-Mu, Engkau yang bersthana di tengah-tengah teratai putih, hormat kepada-Mu Bhaskara pencipta sinar berkilauan.

Surya dilukiskan bercahaya merah dengan tempat duduk singgasana teratai berwarna putih. Ia adalah paraṁ jyoti (cahaya tertinggi), dan juga Bhaskara (pemilik, pencipta cahaya). Cahaya kemerahan itulah yang nampak dipagi hari yang dipandang sebagai perwujudan Sawitri yang selamanya berada pada madya-tengah teratai putih, yang sesungguhnya adalah Shiwa yang suci, seperti yang tertuang dalam bait ke-2:

*Oṁ praṇāmya bhaṣkara devaṁ,*
*sarva kleśa vinaśanaṁ,*
*praṇāmyāditya śivārthaṁ,*
*bhukti mukti varapradaṁ.*

Terjemahan:
Oṁ sujud bhakti kepada Dewa Bhāskara, melenyapkan segala klesa, penderitaan, sujud kepada āditya yang sesungguhnya Śiwa, pemberi anugrah kebahagiaan jasmani rohani/lahir bathin.

Dalam bait kedua dari mantra kramaning sembah yang ditujukan kepada Surya, Tuhan dipuja sebagai Bhaskara artinya sang pemilik cahaya dan Pencipta Cahaya; sebagai penghancur segala penderitaan atau klesa (Sarwa klesa winasanam); Sebagai pusat pemujaan dan kesucian Śiwa; pemberi anugrah kebahagiaan jasmani dan rohani (bhukti mukti varapradaṁ). Sebagai sang pemilik cahaya atau Bhaskara identik dengan kata bhargah dalam savitri mantra.

Ia (Āditya) yang bercahaya kemerahan yang dipuja sebagai sang fajar seseungguhnya adalah śivārthaṁ (Shiwa sang pengatur alam semesta). Sebagai yang mengatur segalanya didalam Weda Tuhan sering disebut Rtawan atau Widhi. Dengan demikian Surya (kemerahan) dipuja sebagai cahaya tertinggi yang merupakan perwujudan dari Rtawan atau Widhi, sebagai penghancur segala penderitaan atau klesa (Sarwa klesa winasanam); Sebagai pusat pemujaan dan kesucian Śiwa; pemberi anugrah kebahagiaan jasmani dan rohani.

C. MERTYUNJAYA (RAKTA SRAYA)

Dalam puja banten durmenggala Sang Hyang Mertyunjaya dilukiskan berwarna merah. Mertyunjaya yang merupakan mantra yang sangat sakral dan merupakan pemujaan kepada Shiwa mengungkapkan sebagai berikut:

*Om mertyunjaya rakta sraya*
*Sarwa roga upadrawa*
*Papa mertyu sangkara*
*Sarwa kali kalika syah*

*Wigraha ngawipada*
*Susupena durmenggala*
*papa kroda winasaya*
*sarwa wighna ya namah swaha*.

Terjemahan:

Om Hyang Widhi hamba bersandar kepada Mertyunjaya yang berwarna merah, Sehingga manusia terhindar dari berbagai penyakit (sarwa roga), terhindar dari kesusahan (upadrawa ) perbuatana dosa (papa), dan terhindar dari kematian-pralaya (mertyu-sangkara), Segala dampak negatif dari pengaruh sang waktu menjauh.

Memiliki kelengkapan keterampilan (ngawipada) kemampuan memilah-milah baik dan buruk (wigraha), Lenyapnya dosa-dosa, kemarahan dan segala rintangan (papa kroda winasaya sarwa wighna ya namah swaha)

Kedurmenggalan adalah kotoran batin perbuatan-perbuatan yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan diluar diri. Kekuatan alam yang bersifat negatif yang bisa mempengaruhi perilaku manusia sehingga cenderung memilih hal-hal negatif.

Dengan banten durmenggala diharapkan kekuatan negatif itu (sang kala purwa sangkala bajra, sang kala sakti, sang kala ngulengleng, sang kala petre) tidak merasuki pikiran dan mempengaruhi hati manusia (aja sira pati pepanjingan). Dengan keluranya halangan dari bhutakala diharapkan mampu menhadapi kehidupan ini dengan sehat panjang umur dan pada akhirnya fokus pada ajaran kalepasan (kamoksan).

Kalimat mertyunjaya rakta sraya yang artinya bergantung pada Mertyunjaya yang berwarna merah juga mengissyaratkan kemana manusia bersandar didalam kehidupan ini. Tempat yang sama yang mana juga mendi tempat bersandarnya alam semesta yaitu Rtawan. Sang Rtawan yang mengatur segala yang ada ini yang mana Hindu di Indonesia menyebutnya dengan Widhi. Widhi-lah yang membimbing manusia dari ketidak kekalan menuju pada yang kekal, dari kegelapan menuju cahaya terang, dari kematian menuju kehidupan abadi.

D. *SAVITRI-SURYA-MRTYUNJAYA*
Savitri-Surya-Mrtyunjaya memiliki persamaan yang menonjol. Savitri dikenal sebagai dewi fajar yang identik dengan cahaya kemerahan di ufuk timur. Surya yang dikenal sebagai Bhaskara (sang pemilik cahaya) juga dipuja dalam cahaya kemarahan. Mertyunjaya yang dikenal sebagai pemujaan kepada nama lain Shiwa sebagai tempat bersandarnya segala keberadaan ini, juga dalam warna merah. Merujuk pada Reg Weda Mandala I Sukta 164 Mantra ke-46 yang menyebutkan bahwa Tuhan itu satu adanya:

*Indram Mitram Varuna Agni ahur atho divyah sasuparno garutman*,
*Ekam sad vipra bahudha vadhantyagnim yamam matarisvanam ahuh*.

Artinya:
Mereka menyebutkan Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan dia yang bercahaya yaitu Garutman yang bersayap elok. Satu itu (Tuhan) sang bijaksana menyebut dengan banyak nama seperti Agni, Yama, Matarisvan.

Dapat dipastikan bahwa yang bercahaya kemarahan Savitri-Surya-Mertyunjaya yang dipuja dalam mantra pujian adalah merujuk pada hakikat yang satu. Dalam bait mantram kramaning sembah kehadapan Surya rakta-teja (yang bercahaya kemerahan) yang sesungguhnya śivārthaṁ (Shiwa yang mengatur seluruh alam semesta). Dalam dua bait mantra pujian kepada Surya dinyatakan bahwa Surya dengan cahaya kemerahan adalah yang mengatur pergerakan alam semesta dengan hukum rtanya.

Shiwa Mertyunjaya yang juga berwarna kemerahan merupakan tempat menggantungkan diri agar lepas dari pengaruh negatif sang kala kalika.
Dimanakah cahaya merah dari Savitri-Surya-Mertyunjaya yang maha suci dan rahasia itu berada dan mengapa menjadi begitu penting? Dalam pujian kepada Surya yang disebut Agni-madhye Ravis caiva dapat diteusuri sebagai berikut:

*Om Agni-madhye Ravis caiva,*
*Ravi-madhye tu Candramah*
*Candra-madhye bhavec Shuklah,*
*Sukla-madhye sthitah Shivah.*

Terjemahan:
Sang Surya (Ravi) berwujud di dalam sang Api (Agni),
sang Bulan (Candra) di dalam sang Matahari (Ravi) ;
sang Cahaya putih-suci (Shuklah) berwujud di dalam sang Bulan,
sang Shiva hadir di dalam sang Cahaya putih-suci (Shuklah).

Dalam puja diatas *Shiwa* dilukiskan berstana ditengah *cahaya kesucian (Shuklah)* yang juga bermakna putih. Dengan demikian Mertyunjaya yang berwarna merah yang tiada lain adalah Siwa hadir dalam kesucian yang mana dinyatakan sebagai Shuklah-cahaya putih. Jadi didalam cahaya kesucian yang putih-suklah bersemayam

*Savitri-Surya-Mertyunjaya* yang merupakan inti kehidupan merah ditengah kesucian *shukla-putih*. Hal mana dapat dibuktikan bahwa sinar matahari yang berwarna putih sesungguhnya terdiri dari rangkaian warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-ungu.

KALENDER SAKAIndia menggunakan sistem Kalender Nasional India (Kalender Saka) untuk keperluan penanggalan tradisional da...
03/08/2026

KALENDER SAKA

India menggunakan sistem Kalender Nasional India (Kalender Saka) untuk keperluan penanggalan tradisional dan keagamaan, di samping Kalender Gregorian untuk aktivitas sehari-hari.

Masyarakat Nusantara nampaknya melakukan penyesuaian kalender Sakha sesuai dengan kearifan lokalnya, sehingga dijumpai kalender, Sunda, Jawa dan Bali.

Kalender Bali (Saka Bali) mengenal dua sistem pembagian bulan yang berjalan secara berdampingan: Sasih (berdasarkan siklus Bulan) dan Pawukon (berdasarkan siklus pekan/wuku).
​1. Sistem Sasih (Siklus Bulan)
​Sistem Sasih terdiri dari 12 bulan yang perhitungannya didasarkan pada perjalanan Bulan mengelilingi Bumi (dari Bulan Baru/Purnama ke Purnama berikutnya). Nama-nama sasih diurutkan berdasarkan penanggalan tradisional Bali:
​Sasih Kasa (Bulan ke-1)
​Sasih Karo (Bulan ke-2)
​Sasih Katiga (Bulan ke-3)
​Sasih Kapat (Bulan ke-4)
​Sasih Kalima (Bulan ke-5)
​Sasih Kanem (Bulan ke-6)
​Sasih Kapitu (Bulan ke-7)
​Sasih Kawolu (Bulan ke-8)
​Sasih Kasanga (Bulan ke-9)
​Sasih Kadasa (Bulan ke-10)
​Sasih Jyestha (Bulan ke-11)
​Sasih Sadha (Bulan ke-12)
​Dalam setiap Sasih, terdapat dua fase utama:
​Penanggal (Sukla Paksa): Fase dari Tilem (Bulan Mati) menuju Purnama (Bulan Penuh), berlangsung selama 15 hari.
​Panglong (Krsna Paksa): Fase dari Purnama menuju Tilem berikutnya, berlangsung selama 15 hari.
​Sistem Mala Sasih: Karena 12 bulan lunar (354-355 hari) lebih pendek dari tahun surya (365 hari), kalender Bali menambahkan satu bulan sisipan (Mala Sasih atau Nampih Sasih) kira-kira setiap 30 bulan sekali agar ritme musim tetap selaras.
​2. Sistem Pawukon (Siklus Wuku)
​Selain Sasih, kalender Bali menggunakan siklus Pawukon yang berlangsung selama 210 hari (30 wuku x 7 hari). Siklus ini mengatur ritme hari-hari suci besar di Bali seperti Galungan, Kuningan, dan Saraswati.

MANA LEBIH MENAKUTKAN, BABI ATAU KORUPSI?RAMAI DIPERBINCANGKAN TENTANG WARUNG BABI GULING DI PALU. Jadi kita perlu tahu ...
03/08/2026

MANA LEBIH MENAKUTKAN, BABI ATAU KORUPSI?

RAMAI DIPERBINCANGKAN TENTANG WARUNG BABI GULING DI PALU.

Jadi kita perlu tahu juga mengapa babi sangat dilarang dan ditakuti, bahkan mungkin lebih ditakuti dari koruptor.

Apakah pemerintah akan mengatur dan mengeluarkan UU penjualan babi, untuk mengatur dan meminimalisir gesekan-gesekan dimasyarakat?

Mari simak mengapa babi yang lezat ini ditakuti!

DALAM AGAMA ISLAM
Pelarangan konsumsi babi (diharamkan) didasarkan pada dua landasan utama: ajaran agama (syariat) dan alasan kesehatan/biologis MENURUT TOKOH KESEHATAN ISLAM
​1. Landasan Agama (Syariat Islam)
​Perintah Tegas Al-Qur'an: Keharaman babi ditegaskan secara eksplisit dalam beberapa ayat Al-Qur'an, antara lain QS. Al-Baqarah: 173, QS. Al-Ma'idah: 3, QS. Al-An'am: 145, dan QS. An-Nahl: 115.
​Sifat Rijs: Al-Qur'an menyebut daging babi bersifat rijs, yaitu kotor, najis, dan membawa dampak buruk secara spiritual maupun fisik.
​Ujian Ketaatan: Bagi umat Muslim, mematuhi larangan ini adalah bentuk kepatuhan dan ujian keimanan terhadap perintah Sang Pencipta.
​2. Landasan Kesehatan dan Biologis
​Risiko Parasit dan Bakteri: Daging babi berpotensi membawa parasit berbahaya, seperti cacing pita (Taenia solium) yang dapat menyebabkan sistiserkosis pada otak, serta cacing Trichinella spiralis.
​Metabolisme Cepat: Babi mencerna makanan dalam waktu singkat (sekitar 4 jam). Akibatnya, racun atau sisa zat berbahaya dari pakan tidak tersaring dengan sempurna dan mengendap di jaringan lemak.
​Vektor Penyakit Zoonosis: Babi dapat menjadi inang bagi berbagai virus dan bakteri patogen yang berisiko menular ke manusia, seperti flu babi (swine flu) dan Streptococcus suis.

DALAM AGAMA YAHUDI
Dalam agama Yahudi, pelarangan babi diatur secara sangat mendasar melalui konsep makanan Kashrut (halal bagi umat Yahudi) yang tertuang dalam kitab Taurat.
​1. Aturan Hukum dalam Kitab Suci
​Aturan hukum pelarangan babi dicatat langsung dalam kitab Imamat (Leviticus) 11:7-8 dan Ulangan (Deuteronomy) 14:8.
​Kriteria Hewan Darat yang Halal: Hewan berkaki empat boleh dikonsumsi jika memenuhi dua kriteria bersamaan:
​Memiliki kuku terbelah dua.
​Memamah biak (mengunyah kembali makanannya/ruminansia).
​Posisi Babi: Babi memiliki kuku yang terbelah dua, tetapi tidak memamah biak. Oleh karena itu, babi dikategorikan sebagai hewan yang tame (tidak bersih/haram) dan tidak boleh dimakan maupun disentuh bangkainya.
​2. Sejarah dan Perkembangan Konteks Sosial

Era / KonteksPeran dan Makna Pelarangan Babi
Kuno & Timur TengahBabi sulit diternakkan oleh suku nomad karena tidak tahan cuaca panas kering dan membutuhkan banyak air serta bahan pangan yang sama dengan manusia.
Simbol Identitas (Bait Allah)Pada masa Hellenistik dan Romawi, pemakan babi sering dihubungkan dengan bangsa penjajah (Yunani/Romawi). Menolak makan babi menjadi identitas perlawanan dan loyalitas terhadap hukum Taurat.
Tradisi Ortodoks Saat IniKelompok Yahudi Ortodoks dan Konservatif mematuhi aturan ini secara ketat hingga kini, termasuk memisahkan peralatan masak dan piring yang pernah tersentuh bahan non-kosher.

DALAM KRISTEN
Dalam agama Kristen, pandangan dan sejarah mengenai daging babi mengalami pergeseran dari larangan ketat dalam hukum Taurat menuju kebebasan konsumsi, meskipun ada denominasi tertentu yang tetap mengharamkannya hingga saat ini.
​1. Landasan Perjanjian Lama (Awal Sejarah)
​Pada masa awal (sebelum kedatangan Yesus), umat Kristen mula-mula yang mayoritas berlatar belakang Yahudi tetap mematuhi aturan hukum Taurat yang terdapat dalam kitab Imamat 11:7-8 dan Ulangan 14:8. Dalam kitab-kitab tersebut, babi dikategorikan sebagai hewan haram karena tidak memamah biak.
​2. Titik Balik Perubahan dalam Perjanjian Baru
​Perubahan pandangan mayoritas umat Kristen terhadap makanan (termasuk babi) didasarkan pada beberapa peristiwa teologis dalam Perjanjian Baru:
​Ajaran Yesus tentang Najis (Markus 7:18–19): Yesus mengajarkan bahwa apa yang masuk ke dalam mulut seseorang tidak dapat menajiskannya, melainkan apa yang keluar dari hati. Teks Alkitab ini secara eksplisit mencatat bahwa melalui ajaran ini, Yesus menyatakan semua makanan halal.
​Penglihatan Rasul Petrus (Kisah Para Rasul 10:9–16): Petrus mendapat penglihatan kain lebar berisi berbagai hewan haram dan mendengar suara yang memerintahkannya untuk menyembelih dan memakannya. Pesan utamanya adalah: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram." Penglihatan ini melambangkan bahwa Injil terbuka bagi orang non-Yahudi, sekaligus menghapus pemisah simbolis berbasis hukum makanan.
​Konsili Yerusalem (Kisah Para Rasul 15): Ketika ajaran Kristen menyebar ke bangsa-bangsa non-Yahudi, para rasul berkumpul untuk memutuskan apakah umat non-Yahudi wajib mematuhi Hukum Musa (seperti sunat dan aturan makanan). Konsili memutuskan bahwa umat non-Yahudi tidak diwajibkan menanggung beban aturan Taurat, kecuali menjauhi makanan persembahan berhala, darah, dan daging hewan mati mencekik.

03/08/2026

KARMA YOGA dan BHAKTI

Dalam perjalanan panjang kehidupan dari kelahiran menuju kelahiran berikutnya, ada satu hal yang menjadi penentu yaitu seberapa sadar kita bahwa hakikatnya kita hanya punya kewajiban. Bukan sebuah kalimat penghibur, atau abai akan hak kita sebagai manusia. ​Itu adalah sebuah seruan menuju pembebasan dari Bhagawad Gita Bab 2, Sloka 47 sebagai landasan Karma Yoga

​कर्मण्येवाधिकारस्ते मा फलेषु कदाचन।
मा कर्मफलहेतुर्भूर्मा ते सङ्गोऽस्त्वकर्मणि॥
​karmaṇy evādhikāras te mā phaleṣu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr mā te saṅgo 'stv akarmaṇi

​Artinya: "Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu, tetapi engkau tidak pernah berhak atas hasil dari tindakanmu. Jangan pernah menganggap dirimu sebagai penyebab hasil dari tindakanmu, dan jangan p**a terikat pada ketidaktindakan."

1. Kewajiban adalah hak yang harus di tunaikan
2. Jangan berharap atas hasil sebagai motif utama
3. Jangan memberi celah padavpikiranmu bahwa engkau sebagai penyebab
4. jangan p**a tidak berbuat sesuatu dalam kehidupan ini.

Karma yoga adalah persembahan kerja. Kerja menjadi sarana untuk persembahan Bhakti kepada Tuhan. Karena itu bekerja tanpa terikat pada hasilnya adalah wujud dari Bhakti.​Bab 18, Sloka 66 (Penyerahan Diri Tertinggi):

​सर्वधर्मान्परित्यज्य मामेकं शरणं व्रज।
अहं त्वां सर्वपापेभ्यो मोक्षयिष्यामि मा शुचः॥
​sarva-dharmān parityajya mām ekaṁ śaraṇaṁ vraja
ahaṁ tvāṁ sarva-pāpebhyo mokṣayiṣyāmi mā śucaḥ

​Artinya: "Tinggalkanlah segala bentuk kewajiban dan berserah dirilah hanya kepada-Ku. Aku akan membebaskan engkau dari segala dosa; janganlah engkau bersedih hati."

Sloka ini menunjukkan bahwa ketika seseorang telah mengabdikan diri sepenuhnya pada kerja sebagai kewajiban, ia larut dalam suasana bathin yang dalam. Kewajiban tidak lagi sebagai sebuah beban, karena semuanya disadari sebagai persembahan Bhakti.

02/08/2026

BIJA DALAM PERSEMBAHYANGAN

Oleh: I Gede Adnyana

Dalam mantra bija aksara merupakan suku kata inti seperti OM-RAM- RIM- RUM-KHAM-GAM- dan sebagainya (Stuti Stava: 274). Sering kali dalam terjemahan kata-kata ini tidak diterjemahkan oleh karena sifatnya yang sangat rahasia dan tak tergantikan. Setiap Bija aksara mewakili ista dewata, dengan menggunakannya seseorang terhubung dengan ista dwata yang dipuja: Sang adalah bijaaksara dari Iswara; Bang Bamadewa; Tang Tat Purusa; Ang Agora; Ing Isyana.

Dengan definisi sebagai inti seperti disebutkan dalam Stuti Stawa menunjukan bahwa Bija aksara adalah yang terdalam atau jika diandaikan dengan tanaman dia adalah benih atau Wija.

Dalam persembahayangan kita juga mengenal wija atau bija yang biasanya di letakan atau ditempelkan pada antara kedua alis, pangkal tenggorokan, dan di telan (tiga biji), setelah nunas tirta dalam persembahyangan. Bija juga digunakan oleh sulingih ketika ngarga tirta, dengan disertai bunga atau kalpika, dan pada intinya disertai dengan pengucapan benih atau bija aksara. Tentang benih Yoga Sutra Patanjali I.25 menyuratkan:
“Tatra niratishayan sarvajntvabijam” (Pada-Nya /Iswara benih serba tahu itu berada pada puncaknya).

Benih serba tahu dijelaskan berada pada Iswara, dialah mula awal dari segala yang ada, titik pertama dari seluruh keberadaan. Serba tahu dalam Wrhaspati Tattwa disebut p**a dengan Dura Sarwajna bagian dari Cadu Shakti (empat kemahakuasaan Bhatara Shiwa) khususnya Jnana Shakti. Benih pengetahuan adalah cikal bakal dari adanya penciptaan dengan mana menjelaskan Brahma dengan Saraswati sebagai Shakti. Penciptaan tak akan terjadi tanpa pengetahuan, pengetahuan adalah pemicu dari adanya ciptaan, dengan ini pengetahuan sejatinya juga bersemayam didalam ciptaan.

Yoga Sutra Pattanjali I.27 kembali menjelaskan: tasya vachakah prannavah (Wujudnya dalam kata adalah Om). Om inilah benih yang di sebut sarvajna (serba tahu) yang disebut Dura Sarwajna, Duratma dalam ajaran Siwa tattwa. Dalam naskah lontar Sang Hyang Naisthika Jnana Bhatara Shiwa berbadankan Om yang merupakan bagian dari Catur Dha yaitu Stula Suksama, Para dan Shunya. Sthula artinya Shiwa nampak dalam Sabda Maya yaitu kesadaran Shiwa berbadankan Om. Suksma artinya Shiwa nampak dalam Citta Maya, berbadankan Jnana. (IBM. Dharma Palguna, Leksikon Hindu, Sadampaty Aksara, 2011). Om halusnya adalah pengetahuan, dengan mana pengetahuan itulah perwujudan dari Sarwajna.

Bija sebagai lambang dari benih-benih ke Shiwa-an atau benih kesucian. Dalam naskah puja disebutkan bahwa Siwa berstana ditengah kesucian:

Om agni madya rawis caiwa,
rawi madya tu candramam,
candra madya bawus suklah,
sukla madya stitah siwah.

Terjemahan:

Siwa yang suci bersemayam ditengah api, ditengah api ada bulan, ditengah bulan
ada kesucian, dalam kesucian Siwa berstana.

Om adalah aksara Bhatara Shiwa dalam naskah Siwa Tattwa, dengan ini menunjukan Bhatara Siwa adalah Om yang berstana pada kesucian. Dengan menggunakan bija diharapkan menumbuhkan kesucian, membangkitkan ke Shiwa-an yang ada didalam diri manusia.

Sifat-sifat Bhatara Shiwa dijelaskan dalam Wrhaspati Tattwa sebagai Cadu Shakti (empat kemahakuasaan) yang terdiri dari Wibhu Sakti, Prabhu Sakti, Jnana Sakti, dan Krya Sakti; Asta Iswarya (delapan kemahakuasaan) yang terdiri dari: anima, lagima, mahima, prapti, prakamya, isitwa, wasitwa, dan yatrakamawasayitwa. Dengan sifat Bhatara Siwa yang demikian Ia dilambangkan duduk pada singgasana tertai berkelopak delapan yang disebut Padmasana, dan karena jumlah helai bunga padma itu delapan maka disebut asta dala.

Tentang Padmasana, Wrehaspati tattwa menjelaskan sebagai singgasana Sang Hyang Sadha Shiwa: “Sawyaparah Bhatara Sada Ciwa Hana padmasana pinakapulungguhanira” (Bhatara Sadha Shiwa ada singasana teratai -padmasana sebagai tempat-Nya). Meletakan bija pada Padmasana hakikatnya memohon agar benih ke-Shiwa-an itu hadir menjadi benih-benih kesadaran atau tutur, yang membangunkan sang jiwa dari tidur panjangnya. Benih itu adalah atma yang menjadi hidupnya hidup yang sesungguhnya sama dengan Brahman. Meletakan benih ke-Shiwa-an hakikatnya meletakan benih Brahman yang mana dalam teks disebut sebagai Pranawa OM, agar menjadi pemicu pada sang atman untuk bangkit atau sadar (yan matutur ikang atma ri jatinya). Dengan bija OM membawa sang atman menuju Om yang adalah Brahman, Bhatara Shiwa yang berstana pada Padmasana.

Mpu Kanwa menjelaskan Bhatara Shiwa yang keberadaanya sangat rahasia bagaikan api dari kayu bagai minyak dari dadih (santan; susu), nyata hadir jika ada orang memutar balik Kesadaran dengan benar demi Kebaikan (Sang saksat metu yan hana wwang amuter tutur pinahayu). Om K*m K*mara wija ya namah (Om K*m – hormat kepada putra (wija) Shiwa, menyatakan bahwa wija itu bukanlah sekedar biji beras tetapi telah menjelma menjadi K*mara Putra (benih) Shiwa. Dari benih ke Shiwa-an inilah diharapkan pikiran, perkataan & perbuatan seseorang menuju Shiwa, hal mana sejalan dengan Tri Kaya Parisudha. Dengan menyucikan pikiran, perkataan dan perbuatan seseorang akan mencapai ke-Shiwa-an yang Maha Suci.

Ketiga kesucian itu membawa pengaruh besar menuju cita-cita hidup Jagadhita dan Moksa. Shiwa juga identik dengan melebur segala dosa, dengan mencapai Shiwa seseorang terbebas dari ikatan dosa, mencapai kelepasan. Semua itu akan diperoleh manakala semua yang dilakukan, baik pikiran, perkataan dan perbuatan dipersembahkan.

Dalam Gita III.15 Brahma yang kekal yang melingkupi semuanya ini (tasmāt sarva-gataḿ brahma), dijelaskan selalu berada disekitar yadnya (nityaḿ yajñe pratiṣṭhitam). Hal ini memberikan petunjuk pada kita bahwa setiap yadnya melibatkan Brahmākṣara (Brahman yang Kekal) yang melingkupi segalanya yang sesunguhnya menghadirkan benih-benih kesucian Shiwa.

TUHAN BERWUJUD DAN TIDAK BERWUJUD I Gede AdnyanaMembaca dan mengulas Adhyaya 12 tentang Bhakti, manakah yang lebih baik ...
02/08/2026

TUHAN BERWUJUD DAN TIDAK BERWUJUD

I Gede Adnyana

Membaca dan mengulas Adhyaya 12 tentang Bhakti, manakah yang lebih baik antara Tuhan yang berwujud dan tidak berwujud?

Gita Adhyaya 12 ini menjelaskan bahwa:
Memuja Tuhan yang tidak berwujud meskipun sangat utama, namun memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar dibandingkan memuja Tuhan yang berwujud.

Leluhur kita mempraktekkan untuk sampai pada Tuhan yang Sunya tanpa ciri apapun, berangkatnya dari yang berwujud, yang disebut CATUR DHA yaitu:
1. Stula artinya Bhatara Shiwa berbadan Om
2. Suksma artinya Bhatara Shiwa berbadan pengetahuan
3. Para, artinya Bhatara Shiwa dihayati dalam hening, dan
4. Sunya, Bhatara Shiwa tanpa ciri apapun.

Om adalah Akhsara Brahman, Tuhan didalam pustaka Upanisad. Om adalah Akhsara Bhatara Shiwa didalam lontar bercorak Shiwa, dimana Ang adalah Brahma, Ung Wisnu dan Mang Iswara atau Rudra.

jadi kesimp**annya kearifan Hindu Nusantara sudah sejak dulu menyatukan dua pandangan cara Bhakti dalam Bhagawad Gita antara Tuhan yang berwujud dan tidak berwujud.

Bhatara Siwa meliputi yang berwujud Ongkara hingga tak berwujud yaitu Sunya, dan menjadikan keduanya bukanlah sebuah masalah, tetapi jenjang pemahaman.



MENGAPA KISAH RAMAYANA -MAHABHARATA dan BAHASA SANSKERTA MUDAH DITERIMA DI INDONESIA?I Gede Adnyana 1) Asal-Usul Pendudu...
02/08/2026

MENGAPA KISAH RAMAYANA -MAHABHARATA dan BAHASA SANSKERTA MUDAH DITERIMA DI INDONESIA?
I Gede Adnyana

1) Asal-Usul Penduduk Indonesia
Penelitian genetika menunjukkan tidak ada orang Indonesia yang memiliki gen 100 persen murni atau asli satu kelompok. Gen masyarakat Indonesia adalah hasil percampuran dari berbagai bangsa di dunia sejak puluhan ribu tahun lalu.Hasil Penelitian GenetikTidak Ada Gen Murni: Tes DNA pada berbagai sampel orang Indonesia membuktikan bahwa tidak ada yang menunjukkan angka 100 persen DNA lokal.Komposisi Mayoritas: Sebagian besar besar gen orang Indonesia berasal dari Asia Tenggara (Austronesia, Melayu, dan Filipina) dengan kisaran dominan yang tinggi. Percampuran Nenek Moyang: Terdapat tambahan persentase gen dari wilayah lain seperti Asia Timur/Tiongkok, Asia Selatan (India), Timur Tengah, hingga sisa gen dari daratan Asia seperti Thailand dan Kamboja.Penyebab Keragaman GenGelombang Migrasi: Nenek moyang manusia berpindah dan saling bercampur di Nusantara melalui jalur laut dan darat sejak ribuan tahun lalu.Perdagangan Masa Lalu: Interaksi dengan pedagang asing dari Tiongkok, India, dan Timur Tengah pada masa lampau ikut menyumbang variasi pada kode genetik penduduk.

2) Leluhur Orang Bali
Komposisi Leluhur Paternal (Kromosom Y)83,7% Gen Austronesia: Mayoritas garis keturunan genetik orang Bali berasal dari migrasi penutur bahasa Austronesia pada masa lampau (melalui haplogrup utama seperti O-M95, O-M119, dan O-M122).Sekitar 12% Gen India: Terdapat jejak penanda genetik asal Asia Selatan (India) yang masuk akibat hubungan perdagangan dan sejarah kebudayaan kuno di Nusantara.2,2% Komponen Pra-Neolitikum: Sisa kecil garis keturunan yang merepresentasikan penduduk awal pemburu-pengumpul (hunter-gatherer) di Indonesia sebelum gelombang migrasi besar.

dari sisi asal-usul jelas ada gen yang sama dengan India, artinya sebagain masyarakat kita dimasa lalu membawa budayanya ke daerah rantau Nusantara. Seperti juga dalam cerita rakyat Kutai Kundungga adalah seorang pendatang, yang kemudian mengangkat pegawai dan membawa kura-kura emas ketika pertama kali sampai di Kutai.

3) Asal-Usul Kutai
Tentang asal-usul nama Kutai masih menjadi perdebatan dikalangan intelektual. Tromp pada akhir abad ke-19 mengungkapkan tentang asal usul kata Kutai dalam karyanya Uit de Salasila Van Koetei yang terbit tahun 1888, mendeskripsikan, kata Kutai dari kombinasi kata tupai, petai, pantai, dan kumpai. C.A. Mees dalam bukunya "De Kroniek van Koetai" mengatakan bahwa koloni Hindu di Muara Kaman bukan Kutai. Nama Kutai baru dikenal sejak kolonisasi Jawa pada abad XIV di muara sungai Mahakam, yaitu Kerajaan Kutai Kartanegara. Sependapat dengan pandangan diatas Sarip mengatakan bahwa nama kerajaan di Muara Kaman itu bukanlah Kutai. Selanjutnya dalam Jurnal Kajian Etimologis Kerajaan (Kutai) Martapura di Muara Kaman, Kalimantan Timur tahun 2020 ia mengungkap asal-ususl Kutai berdasarkan teks Arab Melayu Salasilah Kutai. M. Sarif dan Tromp yang dikuatkan oleh Mees sepakat bahwa tentang asal-usul Kutai dari kata tupai, petai, pantai, dan kumpai.

Pandangan ini memiliki kelemahan, karena dalam kenyataannya masyarakat adat yang menjadi Pengugu atau Penjawat Purus adalah orang-orang Kutai, meskipun mereka meyakini sebagai keturunan Raja Mulawarman. Jika Kutai baru muncul pada abad ke-14 dari kombinasi kata tupai, petai, pantai, dan kumpai, tentu para penjaga Lesong Batu tidak akan menamakan diri mereka sebagai suku Kutai. Yang menjadi pertanyaan adalah sebelum istilah suku kutai melekat pada mereka diabad ke-14 suku apakah mereka ini? Hal ini juga bertentangan dengan pandangan Soetoen, ddk., bahwa Terbentuknya suku Kutai juga berdasarkan kelompok-kelompok suku yang terdiri dari empat suku: Puak Pantun, Puak Punang, Puak Pahu, Puak Melani (Soetoen, dkk., 1979:49). Untuk membahas lebih jauh tentang istilah Kutai perlu dipahami keberadaan penduduk asli Kutai dan pendatang dari luar, serta bagaimana keduanya berintaksi.

Dari pandangan Soetoen, dkk., terjadi kesepakatan diantara puak yang memiliki kesamaan bahasa dan memilih kata Kutai sebagai pemersatu. Munculnya persatuan diantara suku-suku yang berbeda dialek ini mengindikasikan suatu rangkaian peristiwa. Pada umumnya suatu bangsa bersatu karena ada tantangan atau serangan dari luar. Misalnya saja terbentuknya Indonesia setelah mengalami penjajahan dari Belanda dan Jepang.
Unsur luar yang mempengaruhi terbentuknya Kutai seharusnya memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Bersamaan dengan keinginan bersatu membentuk koloni, agama Hindu dengan budaya India nampaknya menjadi unsur luar yang paling masuk akal. Atau bahkan bisa jadi istilah Kutai justru muncul dari pandangan orang-orang India yang datang untuk berdagang atau mencari hasil bumi. Hal semacam ini juga terjadi di India, dimana istilah Hindu pertama kali muncul dari kalangan pedagang persia untuk memberi nama penduduk yang tinggal disekitar lembah sungai Shindu.
Berdasarkan pandangan dari para arkeolog menunjukan kuatnya pengaruh India selatan dalam peradaban Kutai yang dapat dilihat dari aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta dalam prasati Yupa. Jadi hal paling mendekati kebenaran tetang asal-usul Kutai berasal dari rumpun bahasa India Selatan. Salah satu rumpun bahasa yang berkembang di India Selatan adalah percampuran rumpun bahasa Dravida dan bahasa Sanskerta yang disebut bahasa Kannada. Berdasarkan kamus bahasa Kannada istilah Kutai memiliki kesamaan arti dengan kotta. Kotta: “a fort; The leading idea is either "a place of coming together" (Gt.), or "that has been joined together or constructed".(Kittel, 1894:###). (Kotta: “benteng; gagasan utamanya adalah "tempat berkumpul", atau "yang telah disatukan atau dibangun”).
Hal ini sejalan dengan pandangan Soetoen, ddk., bahwa Terbentuknya suku Kutai berdasarkan kelompok-kelompok suku yang terdiri dari empat suku: Puak Pantun, Puak Punang, Puak Pahu, Puak Melani. Wilayah Kutai pada awal berdirinya Kota atau Kotta mencakup, (1) daerah di sekitar Muara Ancalong dan Muara Kaman ;(2) daerah di sekitar Muara Muntai dan Kota Bangun;(3) daerah di sekitar Muara Pahu ;(4) daerah di sekitar Kutai Lama dan Tenggarong inilah yang awalnya disebut Kutai. Pada abad ke-4 Mulawarman seperti disebutkan dalam prasasti nomor inventaris D.177 (Muarakaman VII) yang menyatakan: “Sri Maharaja Mulawarman yang terkenal telah menaklukkan raja-raja lain dan menguasainya seperti Raja Yudhistira”. Dengan pernyataan dalam prasasti ini Kutai telah meluaskan kekuasaannya diluar dari empat puak. Sebab empat puak ini bukanlah jajahan Mulawarman tetapi wilayah awal yang bersepakat untuk bersatu yang kemungkinan dibawah Datuk Kundungga. Meskipun Kundungga telah menerima kebudayaan India dengan membentuk Kotta yang kemudian menjadi Kutai, namun masih menggunakan gelar asli Nusantara. Kerajaan-kerajaan dibawah dinasti Warman ini kemudian secara keseluruhan di sebut Kutai dengan ibu kota Martapura dari kata Mreta yang artinya hidup, dan pura artinya benteng atau kota, jadi Martapura artinya Kota Kehidupan.
Sebagai perbandingan, di India Selatan terdapat nama daerah Kottai yang ada di Tamil Nadu dibekas wilayah Pallawa. Di Kottai ada sebuah kuil Kottai Maryaman untuk memuja Dewi Durga. Prasasti Kudumiyamalai berasal dari wilayah Pudu-kottai, juga berhururf Pallava Grantha dari abad ketujuh atau kedelapan di atas permukaan batu yang lebar. Jadi peradaban Kottai merupakan peradaban tua yang juga tidak terpaut jauh dengan Kutai. Di wilayah Kutai Kartanegara juga terdapat desa Bukit Paryaman. Kedekatan nama-nama ini meskipun tidak dapat menunjukkan bukti otentik asal penduduk lokal, namun setidaknya diketahui bahwa telah ada pengaruh India di wilayah Kutai.
George Coedes, seorang sejarawan Prancis terkemuka tentang Asia Tenggara sepanjang abad ke-20, mengungkapkan bahwa telah terjadi Indianisasi di Nusantara. Proses ini salah satunya disebabkan karena orang-orang india mencari sumber-sumber emas sebagai akibat Kaisar Vespasius (69-79 M) berhasil menghentikan larinya mata uang itu ke luar negeri yang sangat merugikan ekonomi kemaharajaan, karena dijual ke India. Maka tidaklah mustahil keinginan untuk mendapatkan sumber lain merupakan salah satu alasan petualangan orang-orang India ke "Golden Chersonese" (Bumi Emas) (Coedes, 2010: 49).

Jadi sebagian penduduk Nusantara dapat dibuktikan sebagai pendatang yang mebawa kebudayaan dari asalnya yaitu India Selatan, dan jangan lupa bahkan tulisan tertua juga berasal dari India Selatan yaitu Pallawa.

Address

Jalan Kapten Piere Tendean No 20 B, Kel. Bontang Kuala, Kec. Bontang Utara, Kota Bontang Kaltim
Samarinda
75312

Telephone

+81346516533

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Penyuluh Agama Hindu Kota Bontang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share