24/08/2018
Belajar dari tubuh kita (1)
Introduksi
Tubuh manusia itu bagaikan sebuah dunia sendiri. Terdiri atas organ2 tubuh yang masing-masing bekerja sesuai fungsinya, saling memengaruhi satu dengan lainnya. Organ tubuh kita adalah sekump**an sel-sel dan jaringan-jaringan ikat. Sel-sel itu tumbuh, bertambah membelah diri, berkembang, matur dalam fungsinya dan mati pada waktunya, berdasarkan pengaturan genetik. Tangan kita berbentuk seperti ini karena ada pengaturan gen yang membuatnya seperti itu. Mata berwarna coklat gelap atau hitam pekat, karena ada pengaturan genetiknya. Dst …dst … Itu baru sekelumit contoh dari bagian-bagian tubuh kita yang nampak dari luar saja. Sel-sel tubuh itulah yang sebenarnya bekerja secara serentak menciptakan suatu harmoni yang disebut ‘sehat’. Setahu saya tidak ada satu bagian tubuh yang mendominasi lainnya, melainkan kerjasama. Untuk menggerakkan jempol mengetik naskah ini saja diperlukan perintah otak, hantaran saraf yg baik, beberapa kump**an otot yang bergerak harmonis fleksi dan ekstensi, tendo, sendi dan tulang belulang serta energi untuk berpikir, memicu saraf bekerja dan menggerakkan otot.
Dalam konteks kesehatan, ketidak harmonisan tubuh disebut penyakit, karena dapat mengganggu kehidupan manusia.
Untuk menjaga kehidupan sel-selnya, tubuh bergantung kepada banyak faktor di luar dirinya. Dapat dikelompokkan secara garis besar adalah makanan (termasuk minum), udara dan cahaya matahari (baru ini yang sampai sejauh umur saya ini saya ketahui). Makanan adalah sumber zat-zat yang berguna bagi tubuh untuk bekerja dan membangun. Udara dihirup untuk diambil oksigen yang terkandung di dalamnya, dipakai oleh sel tubuh untuk bekerja dan membentuk zat2 penting dalam tubuh. Sinar matahari antara lain berguna untuk mengubah vitamin D agar dapat dimanfaatkan tubuh, dll. Oleh sebab itu, kalau kita ingin tubuh kita dalam harmoni - factor-faktor di luar tubuh ini, yang disebut sebagai lingkungan, pun semestinya diusahakan yang terbaik.
Kelebihan manusia dibanding mahluk lain ada dalam pikirannya. Pikiran adalah hasil kerja sel-sel otak yang merupakan cetusan-cetusan listrik dan atas pengaruh hormon-hormon tubuh. Pikiran ini membuahkan penalaran, keterampilan, tingkah laku, sikap dan sebagainya. Dahulu pikiran ini dianggap abstrak, tidak dapat dilihat, hanya melalui produknyalah pikiran dapat dinilai. Namun sekarang, bagian otak sisi mana yg sedang bekerja membuahkan pikiran, telah dapat dilihat melalui teknologi. Pikiran merupakan aspek yang dapat dibangun melalui pendidikan. Dengan banyak mengetahui, diharapkan dapat mengangkat aspek2 yang dapat meningkatkan kesehatan dan pada akhirnya kehidupan manusia.
Sebagian tubuh kita bekerja atas perintah otak, misal gerakan mulut saat mengunyah dan bicara, gerakan otot saat berjalan, melompat. Sebagian organ tubuh lainnya bekerja secara otonom yaitu organ-organ dalam termasuk jantung, usus, dan berbagai kelenjar penting dalam tubuh. Organ2 otonom ini bekerja berdasarkan perintah dari saraf2 simpatis tanpa melalui kesadaran atau perintah otak. Misalnya bila kita merasa takut, maka jantung berdetak lebih cepat terasa berdebar2, badan berkeringat, terasa sakit perut dan pengin pipis. Respons2 ini tidak kita sadari. Namun hal inipun kabarnya dapat dikendalikan dengan latihan-latihan dan meletakkan dalam pikiran atau kesadaran.
Tidak semua aspek dapat dimodifikasi atau diperbaiki untuk mencapai kesehatan yang terbaik. Namun sebagian lagi bisa.
Mari kita mulai dari apa yang kita bisa.
(Catatan: Tulisan2 saya di FB adalah selalu merupakan simplifikasi saja, dengan harapan dapat lebih mudah dipahami).
Tulisan ini dibuat untuk menyambut dimulainya kegiatan Posyandu PJB Indonesia di luar Semarang, yaitu di Kudus. Terima kasih atas kesediaan dr Arif Faiza, SpA; ibu Niswatin Hasanah dan para orangtua yang telah bersedia merintisnya di Kudus. Semoga bermanfaat.