Center for Holistic-integrative Psychology

Center for Holistic-integrative Psychology Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Center for Holistic-integrative Psychology, Mental Health Service, Ubud.

Holistic-integrative paradigm is the basic framework to view, to understand, to help people; the paradigm is a perspective in understanding human being with their behavior and mental process.

Seni Menjadi Selaras: Rahasia Sehat Mental di Balik "Ya" dan "Tidak"Bayangkan pikiran kita adalah sebuah rumah. Di dalam...
15/04/2026

Seni Menjadi Selaras: Rahasia Sehat Mental di Balik "Ya" dan "Tidak"
Bayangkan pikiran kita adalah sebuah rumah. Di dalamnya, ada sebuah kompas kecil yang selalu tahu arah: hati nurani. Namun, di luar rumah itu, dunia postmodern sedang bising sekali. Ada ekspektasi atasan, tren media sosial, hingga tuntutan pertemanan yang memaksa kita untuk selalu terlihat "oke", selalu tersedia, dan selalu setuju.

Dalam kebisingan itu, kita sering kali melakukan sesuatu yang secara perlahan meracuni kesehatan mental kita: kita mulai mengkhianati kompas kecil di dalam tadi. Kita mengatakan "Ya" saat batin berteriak "Tidak". Kita menjanjikan hal-hal bombastis—"Sumpah, aku pasti bisa"—hanya karena takut kehilangan validasi.

Dua ribu tahun lalu, sebuah prinsip kuno memberikan resep kesehatan jiwa yang sangat radikal: "Nai Nai, Ou Ou". Jika ya, katakan ya. Jika tidak, katakan tidak.

Beban Berat di Balik Topeng "Iya"
Dalam ruang praktik psikologi, kita sering menemukan bahwa kecemasan (anxiety) bukanlah musuh yang datang dari luar, melainkan gesekan yang terjadi di dalam diri. Ketika mulut mengatakan "Ya" untuk sebuah komitmen yang sebenarnya tidak sanggup kita pikul, terjadilah apa yang disebut disonansi kognitif.

Tubuh kita mulai merespons ketidakjujuran itu. Jantung berdegup lebih kencang saat notifikasi pesan masuk, tidur menjadi tidak nyenyak karena beban janji yang menghantui, dan perlahan-lahan energi psikis kita terkuras habis (burnout). Mengapa? Karena kita sedang mencoba memelihara dua realitas: realitas jujur di dalam hati dan realitas palsu yang kita tampilkan ke luar. Menjaga kepalsuan itu butuh energi yang sangat besar.

Kejujuran sebagai Bentuk Self-Care
Menerapkan Nai Nai, Ou Ou di era sekarang adalah bentuk tertinggi dari literasi kesehatan mental. Ini bukan soal menjadi orang yang kaku atau kasar. Sebaliknya, ini adalah tentang integritas holistik.

Saat kita berani berkata, "Tidak, aku tidak punya kapasitas untuk membantu tugas ini sekarang," kita sebenarnya sedang melakukan self-preservation. Kita sedang menjaga agar tangki emosional kita tidak bocor. Menariknya, ketika kita jujur dengan keterbatasan kita, tingkat stres kita menurun. Kita tidak lagi dikejar-kejar oleh "hutang" ekspektasi yang kita ciptakan sendiri.

Sebaliknya, saat kita berkata "Ya", biarlah itu menjadi "Ya" yang bertenaga. "Ya" yang lahir dari kesadaran penuh, bukan dari rasa bersalah atau takut ditinggalkan. "Ya" yang selaras dengan kapasitas biologis, psikologis, dan spiritual kita.

Membangun Keamanan dalam Hubungan
Secara sosial, prinsip ini adalah fondasi dari secure attachment (kelekatan yang aman). Hubungan yang sehat tidak membutuhkan sumpah yang muluk-muluk atau drama pembuktian. Hubungan yang sehat tumbuh subur di atas tanah prediktabilitas.

Ketika orang-orang di sekitar kita tahu bahwa kata-kata kita adalah cerminan dari hati kita, mereka akan merasa aman. Mereka tidak perlu membuang energi mental untuk menebak-nebak, "Dia beneran mau bantu nggak ya, atau cuma nggak enak hati aja?" Kejujuran yang sederhana—meskipun terkadang pahit di awal—justru akan menciptakan kedamaian jangka panjang bagi semua pihak.

Menjadi Pribadi yang Terintegrasi
Pada akhirnya, Nai Nai, Ou Ou adalah ajakan untuk menjadi pribadi yang utuh. Di dunia yang gemar memakai filter dan topeng, menjadi orang yang selaras antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diucapkan adalah sebuah kemewahan mental.

Apapun yang "lebih dari itu"—alasan yang dibuat-buat, sumpah yang dipaksakan, atau janji untuk memanipulasi keadaan—hanya akan memecah belah jiwa kita sendiri.

Mari kita mulai melatih otot integritas kita hari ini. Mulailah dengan pertanyaan sederhana sebelum menjawab apa pun: "Apakah 'Ya' ini lahir dari ketulusan, atau hanya dari ketakutan?" Karena kesehatan mental Anda dimulai dari keberanian untuk menjadi jujur pada diri sendiri.

Pesan Literasi: Kesehatan mental bukan hanya tentang ketiadaan gangguan jiwa, tetapi tentang keselarasan antara suara hati dan ucapan lidah.

30/03/2026

Kelelahan emosional (emotional exhaustion) dapat muncul ketika seseorang terus-menerus terlibat dalam relasi yang menuntut regulasi emosi, perhatian, dan respons tanpa keseimbangan.

Beberapa dinamika yang sering terlibat antara lain:
1. Kebutuhan validasi yang tinggi dengan empati yang terbatas
2. Kecenderungan menyalahkan faktor eksternal untuk menghindari distress internal
3. Serta pola relasi dengan intensitas emosi yang fluktuatif dan berulang

Paparan yang konsisten terhadap pola ini dapat meningkatkan beban kognitif dan afektif,
yang dalam jangka panjang berkontribusi pada kelelahan emosional. Oleh karena itu, pengaturan batas (set boundaries) menjadi bagian penting dari self-regulation, agar individu tetap dapat terlibat dalam relasi tanpa kehilangan kapasitas dirinya.

Jika kamu merasa sering kelelahan dalam relasi dan ingin memahami pola yang terjadi secara lebih personal, kamu bisa mengeksplorasinya lebih lanjut melalui sesi konseling bersama tim CHi Psy. Klik link di bio kami.

Ref:
Baumeister, R. F., Dale, K., & Sommer, K. L. (1998). Freudian defense mechanisms and empirical findings in modern social psychology. Journal of Personality, 66(6), 1081–1124.
Campbell, W. K., & Miller, J. D. (Eds.). (2011). The handbook of narcissism and narcissistic personality disorder: Theoretical approaches, empirical findings, and treatments. Wiley.
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., & Layton, J. B. (2010). Social relationships and mortality risk: A meta-analytic review. PLoS Medicine, 7(7), e1000316.
Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Understanding the burnout experience: Recent research and its implications. World Psychiatry, 15(2), 103–111.

Sering merasa cemas? Takut? Itu wajar kok! Tapi kalau setiap hari…? 🤔 Anxiety disorder atau gangguan kecemasan ternyata ...
25/03/2026

Sering merasa cemas? Takut? Itu wajar kok! Tapi kalau setiap hari…? 🤔 

Anxiety disorder atau gangguan kecemasan ternyata termasuk salah satu masalah kesehatan mental yang cukup banyak ditemui di Indonesia. Namun nyatanya, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami apa itu anxiety dan bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari 

Memahami adalah langkah pertama untuk bisa lebih peduli, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Jadi, mari kita pelan-pelan belajar dan mulai peka terhadap tanda-tanda dari kecemasan yang berlebihan 💌

📚 Referensi

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).

Kementerian Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018.

Wahdi, A. E., Wilopo, S. A., & Erskine, H. E. (2023). The prevalence of adolescent mental disorders in Indonesia: an analysis of Indonesia–National Mental Health Survey (I-NAMHS). Journal of Adolescent Health

23/03/2026

Lemes bahkan sebelum mulai apa-apa 🥲🥲
Belum kejadian, tapi badan sudah bereaksi duluan.

Secara psikologis, ini berkaitan dengan bagaimana kita menilai situasi sebelum mengalaminya, seperti dijelaskan oleh Richard Lazarus & Susan Folkman, bahwa respons stres seringkali muncul dari persepsi kita terhadap sesuatu, bukan hanya dari kejadiannya.

Di saat yang sama, otak kita juga bekerja dengan cara membandingkan pengalaman.
Perbedaan antara kondisi yang nyaman dan rutinitas membuat transisi terasa lebih berat, sebagaimana dibahas dalam teori perbandingan oleh Leon Festinger.

Makanya, wajar kalau tubuh butuh waktu untuk “mengejar” perubahan yang terjadi.

Tidak semua hal perlu langsung dilawan atau dipaksakan selesai. Mari coba memahami ritme diri sendiri terlebih dulu.

Peka, bukan panik 💯

Ref: Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping.
Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations.

Memaafkan bukan berarti melupakan.Tapi memilih untuk tidak lagi hidup di dalam luka yang sama.Segenap Tim Chi Psy menguc...
21/03/2026

Memaafkan bukan berarti melupakan.
Tapi memilih untuk tidak lagi hidup di dalam luka yang sama.

Segenap Tim Chi Psy mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Waktunya pulang bukan ke masa lalu, melainkan kepada diri yang lebih utuh ✨

Rahajeng Rahina Nyepi Tahun Saka 1948 🌿Di tengah sunyi yang dipilih,kita belajar berhenti.Semoga dalam keheningan,hati d...
19/03/2026

Rahajeng Rahina Nyepi
Tahun Saka 1948 🌿

Di tengah sunyi yang dipilih,
kita belajar berhenti.

Semoga dalam keheningan,
hati dipulihkan,
pikiran dijernihkan,
dan langkah esok dipenuhi damai.

Pernah ga merasa pikiran seperti ga bisa berhenti khawatir? Seolah-olah otak terus memutar berbagai kemungkinan bahkan u...
17/03/2026

Pernah ga merasa pikiran seperti ga bisa berhenti khawatir? Seolah-olah otak terus memutar berbagai kemungkinan bahkan untuk hal-hal kecil? Yuk kita kenali Generalized Anxiety Disorder (GAD)!

GAD adalah kecemasan dan kekhawatiran berlebih secara terus menerus terhadap banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Pikiran terasa terus dipenuhi kemungkinan buruk, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tampak biasa.

Sering kali orang di sekitar mengatakan “ah cuma overthinking aja itu” atau “udah jangan dipikirin”. Namun bagi individu dengan kondisi ini, mengendalikan rasa cemas bukanlah hal yang mudah, mereka sedang berjuang keras menghadapi pikirannya sendiri. Dengan mengenal GAD lebih jauh, kita bisa belajar untuk lebih memahami, lebih peka, dan tidak meremehkan kecemasan yang mungkin sedang dialami orang lain.

Swipe sampai habis ya ✨
Siapa tahu kamu jadi lebih paham tentang dirimu sendiri, atau bisa lebih hadir untuk orang yang kamu sayangi. Terkadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan solusi yang cepat, tapi didengar dan dimengerti💝

📚 Referensi
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).

16/03/2026

Tidak semua orang takut berkomitmen karena tidak peduli.
Kadang, ada ketakutan yang lebih dalam: takut gagal, takut salah, atau belum siap memegang tanggung jawab hidup.

Dalam psikologi populer, pola seperti ini sering dibahas dengan istilah Peter Pan Syndrome, yang diperkenalkan oleh Dan Kiley.
Sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana sebagian orang dewasa bisa mengalami kesulitan berkembang menuju kemandirian emosional.

Karena kedewasaan psikologis bukan sesuatu yang otomatis datang bersama usia, melainkan sesuatu yang dipelajari, diproses, dan dibentuk melalui pengalaman hidup.

Memahami pola diri bukan untuk menghakimi, tapi untuk membuka ruang bertumbuh. Dan kadang, proses memahami diri itu memang lebih mudah ketika dijalani bersama pendamping profesional.

Jika kamu ingin mengenal dinamika dirimu lebih dalam, tim konselor CHI Psy siap berjalan bersama dalam proses tersebut.

Ref: Kiley, D. (1983). The Peter Pan Syndrome: Men who have never grown up. New York: Dodd, Mead & Company.

Sering merasa cemas? Takut? Itu wajar kok! Tapi kalau setiap hari…? 🤔Anxiety disorder atau gangguan kecemasan ternyata t...
11/03/2026

Sering merasa cemas? Takut? Itu wajar kok! Tapi kalau setiap hari…? 🤔

Anxiety disorder atau gangguan kecemasan ternyata termasuk salah satu masalah kesehatan mental yang cukup banyak ditemui di Indonesia. Namun nyatanya, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami apa itu anxiety dan bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari

Memahami adalah langkah pertama untuk bisa lebih peduli, baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Jadi, mari kita pelan-pelan belajar dan mulai peka terhadap tanda-tanda dari kecemasan yang berlebihan 💌

📚 Referensi
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).
Kementerian Kesehatan RI, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Laporan Nasional Riskesdas 2018.
Wahdi, A. E., Wilopo, S. A., & Erskine, H. E. (2023). The prevalence of adolescent mental disorders in Indonesia: an analysis of Indonesia–National Mental Health Survey (I-NAMHS). Journal of Adolescent Health

Address

Ubud

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Center for Holistic-integrative Psychology posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share